SISTEM KOORDINASI PADA HEWAN
Sistem Koordinasi merupakan sistem saraf (pengaturan tubuh) berupa penghantaran impul saraf ke susunan saraf pusat, pemrosesan impul saraf dan perintah untuk memberi tanggapan rangsangan atau sistem yang mengatur kerja semua sistem organ agar dapat bekerja secara serasi. Sistem koordinasi pada hewan meliputi sistem saraf beserta indera dan sistem endokrin(hormon). Sistem saraf merupakan sistem yang khas bagi hewan, karena sistem saraf ini tidak dimiliki oleh tumbuhan. Sistem saraf yang dimiliki oleh hewan berbeda-beda, semakin tinggi tingkatan hewan semakin komplek sistem sarafnya.
Sistem saraf tersusun oleh berjuta-juta sel saraf yang mempunyai bentuk bervariasi. Sistem ini meliputi sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Dalam kegiatannya, saraf mempunyai hubungan kerja seperti mata rantai (berurutan) antara reseptor dan efektor. Reseptor adalah satu atau sekelompok sel saraf dan sel lainnya yang berfungsi mengenali rangsangan tertentu yang berasal dari luar atau dari dalam tubuh. Efektor adalah sel atau organ yang menghasilkan tanggapan terhadap rangsangan. Contohnya otot dan kelenjar. Sistem saraf terdiri dari jutaan sel saraf (neuron). Fungsi sel saraf adalah mengirimkan pesan (impuls) yang berupa rangsang atau tanggapan.
Sistem Saraf Pusat
Sistem saraf pusat meliputi otak dan sumsum tulang belakang.
1. Otak (ensefalon)
Otak mempunyai lima bagian utama, yaitu:
a. Otak besar (serebrum)
Otak besar merupakan sumber dari semua kegiatan/gerakan sadar atau sesuai dengan kehendak, walaupun ada juga beberapa gerakan refleks otak. Pada bagian korteks serebrum yang berwarna kelabu terdapat bagian penerima rangsang (area sensor) yang terletak di sebelah belakang area motor yang berfungsi mengatur gerakan sadar atau merespon rangsangan. Selain itu terdapat area asosiasi yang menghubungkan area motor dan sensorik.
Gbr. Otak dengan bagian-bagian penyusunnya
b. Otak tengah (mesensefalon)
Otak tengah terletak di depan otak kecil dan jembatan varol. Di depan otak tengah terdapat talamus dan kelenjar hipofisis yang mengatur kerja kelenjar-kelenjar endokrin. Bagian atas (dorsal) otak tengah merupakan lobus optikus yang mengatur refleks mata seperti penyempitan pupil mata, dan juga merupakan pusat pendengaran.
Gbr. Otak dan kegiatan-kegiatan yang dikontrolnya
c. Otak kecil (serebelum)
Serebelum mempunyai fungsi utama dalam koordinasi gerakan otot yang terjadi secara sadar, keseimbangan, dan posisi tubuh. Bila ada rangsangan yang merugikan atau berbahaya maka gerakan sadar yang normal tidak mungkin dilaksanakan.
d. Jembatan varol (pons varoli)
Jembatan varol berisi serabut saraf yang menghubungkan otak kecil bagian kiri dan kanan, juga menghubungkan otak besar dan sumsum tulang belakang.
e. Sumsum sambung (medulla oblongata)
Sumsum sambung berfungsi menghantar impuls yang datang dari medula spinalis menuju ke otak. Sumsum sambung juga mempengaruhi jembatan, refleks fisiologi seperti detak jantung, tekanan darah, volume dan kecepatan respirasi, gerak alat pencernaan, dan sekresi kelenjar pencernaan. Selain itu, sumsum sambung juga mengatur gerak refleks yang lain.
2. Sumsum tulang belakang (medulla spinalis)
Pada penampang melintang sumsum tulang belakang ada bagian seperti sayap yang terbagi atas sayap atas disebut tanduk dorsal dan sayap bawah disebut tanduk ventral. Impuls sensori dari reseptor dihantar masuk ke sumsum tulang belakang melalui tanduk dorsal dan impuls motor keluar dari sumsum tulang belakang melalui tanduk ventral menuju efektor. Pada tanduk dorsal terdapat badan sel saraf penghubung (asosiasi konektor) yang akan menerima impuls dari sel saraf sensori dan akan menghantarkannya ke saraf motor. Pada bagian putih terdapat serabut saraf asosiasi. Kumpulan serabut saraf membentuk saraf (urat saraf). Urat saraf yang membawa impuls ke otak merupakan saluran asenden dan yang membawa impuls yang berupa perintah dari otak merupakan saluran desenden.
Gbr. Penampang melintang sumsum tulang belakang
Sistem Saraf Tepi
Sistem saraf tepi terdiri dari sistem saraf sadar dan sistem saraf tak sadar (sistem saraf otonom). Sistem saraf sadar mengontrol aktivitas yang kerjanya diatur oleh otak, sedangkan saraf otonom mengontrol aktivitas yang tidak dapat diatur otak antara lain denyut jantung, gerak saluran pencernaan, dan sekresi keringat.
Gbr. Saraf tepi dan aktivitas-aktivitas yang dikendalikannya
1. Sistem Saraf Sadar
Sistem saraf sadar disusun oleh saraf otak (saraf kranial), yaitu saraf-saraf yang keluar dari otak, dan saraf sumsum tulang belakang, yaitu saraf-saraf yang keluar dari sumsum tulang belakang.
Saraf otak ada 12 pasang yang terdiri dari:
1. Tiga pasang saraf sensori
2. Lima pasang saraf motor
3. Empat pasang saraf gabungan sensori dan motor
Saraf otak dikhususkan untuk daerah kepala dan leher, kecuali nervus vagus yang melewati leher ke bawah sampai daerah toraks dan rongga perut. Nervus vagus membentuk bagian saraf otonom. Oleh karena daerah jangkauannya sangat luas maka nervus vagus disebut saraf pengembara dan sekaligus merupakan saraf otak yang paling penting.
Saraf sumsum tulang belakang berjumlah 31 pasang saraf gabungan. Berdasarkan asalnya, saraf sumsum tulang belakang dibedakan atas 8 pasang saraf leher, 12 pasang saraf punggung, 5 pasang saraf pinggang, 5 pasang saraf pinggul, dan satu pasang saraf ekor.
2. Saraf Otonom
Sistem saraf otonom disusun oleh serabut saraf yang berasal dari otak maupun dari sumsum tulang belakang dan menuju organ yang bersangkutan. Dalam sistem ini terdapat beberapa jalur dan masing-masing jalur membentuk sinapsis yang kompleks dan juga membentuk ganglion. Urat saraf yang terdapat pada pangkal ganglion disebut urat saraf pra ganglion dan yang berada pada ujung ganglion disebut urat saraf post ganglion. Sistem saraf otonom dapat dibagi atas sistem saraf simpatik dan sistem saraf parasimpatik. Perbedaan struktur antara saraf simpatik dan parasimpatik terletak pada posisi ganglion. Saraf simpatik mempunyai ganglion yang terletak di sepanjang tulang belakang menempel pada sumsum tulang belakang sehingga mempunyai urat pra ganglion pendek, sedangkan saraf parasimpatik mempunyai urat pra ganglion yang panjang karena ganglion menempel pada organ yang dibantu. Fungsi sistem saraf simpatik dan parasimpatik selalu berlawanan (antagonis). Sistem saraf parasimpatik terdiri dari keseluruhan “nervus vagus” bersama cabang-cabangnya ditambah dengan beberapa saraf otak lain dan saraf sumsum sambung.
Tabel Fungsi Saraf Otonom
Parasimpatik Simpatik
• mengecilkan pupil
• menstimulasi aliran ludah
• memperlambat denyut jantung
• membesarkan bronkus
• menstimulasi sekresi kelenjar pencernaan
• mengerutkan kantung kemih • memperbesar pupil
• menghambat aliran ludah
• mempercepat denyut jantung
• mengecilkan bronkus
• menghambat sekresi kelenjar pencernaan
• menghambat kontraksi kandung kemih
Struktur Sel Saraf
Setiap neuron terdiri dari satu badan sel yang di dalamnya terdapat sitoplasma dan inti sel. Dari badan sel keluar dua macam serabut saraf, yaitu dendrit dan akson (neurit).Dendrit berfungsi mengirimkan impuls ke badan sel saraf, sedangkan akson berfungsi mengirimkan impuls dari badan sel ke jaringan lain. Akson biasanya sangat panjang. Sebaliknya, dendrit pendek. Setiap neuron hanya mempunyai satu akson dan minimal satu dendrit. Kedua serabut saraf ini berisi plasma sel. Pada bagian luar akson terdapat lapisan lemak disebut mielin yang merupakan kumpulan sel Schwann yang menempel pada akson. Sel Schwann adalah sel glia yang membentuk selubung lemak di seluruh serabut saraf mielin. Membran plasma sel Schwann disebut neurilemma. Fungsi mielin adalah melindungi akson dan memberi nutrisi. Bagian dari akson yang tidak terbungkus mielin disebut nodus Ranvier, yang berfungsi mempercepat penghantaran impuls
Gbr. Sel saraf dan bagian-bagiannya
MACAM-MACAM RESEPTOR
Eksteroseptor
Eksteroseptor memberi informasi kejadian-kejadian pada permukaan tubuh hewan. Eksteroseptor adalah suatu alat penerima rangsang dari luar, misalnya bila kita digigit nyamuk atau dihinggapi serangga. Kita dapat mengetahui langsung tempat nyamuk itu menggigit dan serangga hinggap. Dengan secara refleks kita akan melakukan respon terhadap bekas gigitan tadi misalnya menggaruk bekasnya.
Indra peraba dan tekanan diketahui sebagai indera dirasakan oleh ujung-ujung saraf pada folikel-folikel rambut yaitu ujung-ujung saraf Merkel’s dan Paccini. Ujung saraf Paccini yang berbentuk ovale adalah reseptor tekanan.
Ujung saraf Merkel, Paccini dan Meisner disebut juga mekanoreseptor karena bisa menyampaikan rangsang yang disebabkan oleh rangsangan mekanis. Ujung-ujung saraf Ruffini berguna sebagai reseptor panas. Dengan ujung saraf ini kita bisa mengetahui perubahan temperatur pada permukaan kulit terutama panas. Reseptor yang demikian disebut juga termoseptor. Reseptor untuk merasakan sakit ini merupakan ujung-ujung saraf yang tersebar di seluruh tubuh.
1) Pit organ
Indera perasa panas pada beberapa hewan digunakan sebagai alat untuk menangkap mangsanya. Alat untuk penerima panas tersebut dinamakan pit organ. Pit organ ini dipunyai terutama oleh ular. Pit organ letaknya diantara mata dengan lubang hidung dan pada bagian muka pada hewan lainnya. Bentuknya berupa saluran yang berisi darah dan ujung-ujung saraf yang amat peka terhadap panas. Pit organ ini tidak bisa digolongkan ke dalam eksteroseptor karena sumber rangsang tidak berasal dari permukaan tubuh tetapi dari jarak tertentu.
2) Gurat sisi
Sistem saraf yang ditemukan pada golongan hewan Vertebrata rendah seperti pada ikan dan amfibi. Gurat sisi ini pada ikan dan amfibi tertentu merupakan suatu saluran dibawah kulit yang mempunyai saluran keluar tubuhnya. Dipermukaan tubuhnya saluran-saluran itu merupakan lubang-lubang membentuk barisan dalam satu garis. Pada saluran gurat sisi terdapat rambut-rambut sensoris yang letaknya teratur disebut neuromast. Neuromast ini mempunyai kepekaan terhadap tekanan dan arus air. Selain itu juga untuk mengetahui obyek yang bergerak berupa mangsa atau yang memangsanya.
3) Rheotaksis
Rheotaksis adalah suatu kecenderungan dari mahkluk hidup untuk menerima rangsangan mekanis dari arus air karena gerakan. Misalnya pada planaria, cacing ini akan mengadakan reaksi terhadap arus air dengan reseptor yang ada pada seluruh permukaan tubuhnya.
4) Anemotaksis
Anemotaksis adalah suatu kemampuan hewan untuk mengetahui aliran udara disekitarnya. Anemotaksis ini terdapat pada hewan terbang seperti lalat. Mereka berorientasi di udara dengan menggunakan reseptor untuk mengetahui tekanan udara, arus udara. Reseptor terdapat pada bagian dasar sayap dan pada bagian kepala.
5)Indera pengecap
Pengecap dirasakan oleh adanya reseptor pengecap yang disebut sel-sel pengecap. Reseptor ini secara konstan memberi informasi mengenai sifat-sifat zat yang masuk melalui mulut pada waktu makan, selain itu terdapat papilla pada lidah. Ada empat macam rasa kecap utama yaitu: pahit, manis, asam dan asin. Indera pengecap sangat penting untuk kelangsungan hidup hewan. Hewan yang mempunyai alat penciuman kurang tajam, maka kurang berkembang pula alat pengecapnya. Reseptor pengecap adalah suatu kemoreseptor karena dapat dirangsang oleh berbagai zat kimia.
6) Kemoreseptor
Indera penciuman dan pengecap termasuk suatu kemoreseptor, sebab indera pengecap merupakan alat yang bisa merasakan zat-zat kimia dan indera penciuman bisa mencium berbagai sifat zat kimia terutama baunya. Hewan-hewan rendah juga memiliki beberapa kemoreseptor yang berkembang baik dan berperanan penting pada kelangsungan hidupnya. Contohnya bila asam lemah diteteskan pada tubuhnya maka protozoa (Amoeba,sp) akan menggerakkan pseudopodianya, Hydra dapat membedakan makanan yang hidup dan yang mati. Kemoreseptor berfungsu juga sebagai alat simbiosis komensalisme dan parasitisme.
Proprioseptor
Informasi mengenai kedudukan tubuh dan lender dirasakan oleh propriseptor. Proprioseptor terdapat pada empat otot (otot lurik), pada tendon otot, pada selaput pembungkus otot berupa ujung saraf Paccini dan pada sendi. Proprioseptor merupakan suatu mekanoseptor. Proprioseptor penting untuk mengatur koordinasi aktifitas otot.
Interoseptor
Interoseptor menyampaikan informasi mengenai kejadian-kejadian di dalam tubuh. Di dalam tubuh hewan banyak reseptor yang secara konstan menyampaikan informasi tentang keadaan alat-alat dalam seperti jantung, paru-paru, pembuluh darah dan informasi tentang lingkungan dalam seperti kadar glukosa darah, konsentrasi ion, dan PH kepada saraf pusat. Semua reseptor diatas termasuk kedalam interoreseptor.
Selain interoseptor juga terdapat interoseptor khusus yang berfungsi sebagai alat keseimbangan. Letaknya pada telinga dalam yang disebut Labirin. Labirin terdiri atas alat keseimbangan untuk merasakan gerakan kepala yaitu saluran-saluran semisirkuler dan alat untuk mengetahui kedudukan kepala yaitu utrikulus dan sakulus.
Fotoreseptor
Hampir semua hewan mempunyai kapasitas untuk merespon terhadap cahaya. Cahaya merupakan gelombang elektromagnetik dan organ visual dari hewan memperlihatkan perbedaan sensitifitas terhadap gelombang cahaya yang berbeda. Disamping memperlihatkan sensitifitas teerhadap cahaya, kebanyakan hewan telah mempunyai organ penglihatan yang baik yaitu mata. Mata atau titik mata ditemukan pada Platyhelminthes, Nematelminthes, Annelida, Molluska, Arthropoda dan semua Vertebrata. Mata dibangun oleh sel-sel fotoreseptor yang menerima kualitas cahaya tertentu seperti intensitas dan warna.
Struktur mata Vertebrata
Mata mammalia merupakan organ khusus yang bentuknya hamper bundar. Gerakan bola mata dikendalikan oleh enam otot intrinsik yang diberi nama sesuai dengan temapt melekatnya. Bola mata mempunyai tiga lapisan dinding. Paling luar disebut lapisan sclera yang dibangun oleh jaringan fibrosa. Mempunyai fungsi sebagai pelindung. Sclera sebalah muka berubah menjadi transparan seperti gelas yang disebut kornea. Di permukaan luar kornea dilapisi oleh lapisan tipis transparan dan banyak mengandung pembuluh darah. Lapisan ini disebut konjungtiva. Lapisan tengah disebut lapisan koroid. Koroid dibangun oleh jaringan ikat yang mempunyai banyak pembuluh darah dengan sejumlah se-sel pigmen. Pada beberapa binatang malam pada koroid terdapat lapisan pemantul yang disebut tapetum dan pada malam hari kelihatan memantulkan cahaya. Di bagian muka mata koroid memisahkan diri dari sclera membentuk iris. Pada mamalia iris mempunyai pigmen. Lapisan yang terdalam disebut retina, merupakan lapisan saraf yang tipis, sensitif terhadap cahaya dan berisi epitel sensorik. Bayangan dari suatu benda yang kita lihat akan terbentuk pada retina.
Di belakang iris terdapat sebuah lensa cembung yang diikat oleh otot lensa. Lensa membagi mata menjadi dua buah rongga yaitu ruangan antara kornea dengan lensa (rongga muka) dan ruangan di belakang lensa (rongga belakang). Kedua rongga itu diisi cairan kental. Rongga belakang berisi vitreous humour yang transparan dan seperti jeli sedangkan rongga muka berisi aqueous humour.
Struktur retina
Retina merupakan lapisan yang sangat halus dan sangat sensitif terhadap cahaya. Retina menangkap bayangan dari obyek dari luar dan meneruskan kesan tersebut ke pusat penglihatan pada korteks serebral. Sebelum cahaya sampai pada lapisan reseptor (sel kerucut dan batang) terlebih dahulu harus menembus melewati kornea, aqueous humour, lensa , vitreous humour dan lapisan retina. Lapisan reseptor mempunyai suatu daerah yang disebut fovea yang hanya berisi sel-sel kerucut.
Penyebaran sel-sel kerucut dan sel batang pada retina mata tidak merata. Pada manusia mulai dari fovea ke bagian tepi dari retina jumlah sel kerucut makin berkurang sedang sel batang makin bertambah. Pada hewan malam retina terutama berisi sel-sel batang. Sebaliknya hewan yang aktif pada siang hari retinanya berisi sel kerucut. Sel-sel batang sangat penting untuk penglihatan pada waktu cahaya berkurang tapi tidak dapat melihat warna. Pigmen yang sensitif terhadap cahaya yang terdapat pada sel batang akan terurai oleh cahaya yang terdapat pada sel batang akan terurai oleh cahaya dan dibentuk kembali waktu gelap. Karena regerasinya lambat maka fotosintesis sel batang secara berangsur bertambah di tempat yang gelap.
Sel kerucut sangat penting untuk penglihatan di waktu terang dan dengan adanya sel-sel kerucut kita dapat melihat zat warna. Sel-sel kerucut memerlukan cahaya terang agar dapat berfungsi. Pada fovea atau bintik kuning hanya terdapat sel-sel kerucut dan tiap sel dihubungkan dengan satu serabut saraf. Sel kerucut juga mempunyai pigmen yang sensitive pada cahaya. Terdapat tiga macam pigmen, salah satu yang telah dapat diketahui adalah iodopsin. Terdapat tiga type sel kerucut yang peka terhadap sinar merah, hijau dan biru.
Warna pada penglihatan
Warna pada penglihatan Vertebrata disebabkan adanya tiga macam pigmen, msing-masing pigmen cocok dengan panjang gelombang cahaya tertentu yang sesuai dengan warna biru, hijau dan merah. Menurut teori trichromatik ketiga pigmen tersebut terdapat terpisah pada sel-sel kerucut. Pigmen-pigmen tersebut terdapat secara bersama-sama atau secara kolektif bertanggung jawab atas kesempurnaan melihat warna.
Akomodasi
Akomodasi berarti memfokuskan atau memusatkan bayangan. Pada hewan-hewan tertentu masalah akomodasi dipecahkan dengan jalan menambah dan mengurangi panjang bola mata. Akomodasi denganmengubah jarak lensa sebagai berikut:
1. Pada Cyclostomata dan Teleostei (ikan bertulang) untuk obyek yang dekat lensa tidak diubah, tapi untuk yang jauh lensa mata digerakkan ke belakang (diameter bola mata diperkecil)
2. Ikan tulang rawan, Amfibi dan bangsa ular lensa tidak diubah untuk obyek yang jauh dan digerakkan ke muka untuk obyek yang dekat (diameter bola mata bertambah).
Pada mamalia burung dan reptil (selain dari ular) lensa tidak dapat diubah jaraknya tapi dapat diubah kecembungannya. Pengaturan kecembungan lensa diatur oleh otot-otot lensa.
.
MEKANISME PENGHANTARAN IMPULS
Penghantaran Impuls Melalui Sel Saraf
Penghantaran impuls baik yang berupa rangsangan ataupun tanggapan melalui serabut saraf (akson) dapat terjadi karena adanya perbedaan potensial listrik antara bagian luar dan bagian dalam sel. Pada waktu sel saraf beristirahat, kutub positif terdapat di bagian luar dan kutub negatif terdapat di bagian dalam sel saraf. Diperkirakan bahwa rangsangan (stimulus) pada indra menyebabkan terjadinya pembalikan perbedaan potensial listrik sesaat. Perubahan potensial ini (depolarisasi) terjadi berurutan sepanjang serabut saraf. Kecepatan perjalanan gelombang perbedaan potensial bervariasi antara 1 sampai dengart 120 m per detik, tergantung pada diameter akson dan ada atau tidaknya selubung mielin.
Bila impuls telah lewat maka untuk sementara serabut saraf tidak dapat dilalui oleh impuls, karena terjadi perubahan potensial kembali seperti semula (potensial istirahat). Untuk dapat berfungsi kembali diperlukan waktu 1/500 sampai 1/1000 detik.
Energi yang digunakan berasal dari hasil pemapasan sel yang dilakukan oleh mitokondria dalam sel saraf.
Stimulasi yang kurang kuat atau di bawah ambang (threshold) tidak akan menghasilkan impuls yang dapat merubah potensial listrik. Tetapi bila kekuatannya di atas ambang maka impuls akan dihantarkan sampai ke ujung akson. Stimulasi yang kuat dapat menimbulkan jumlah impuls yang lebih besar pada periode waktu tertentu daripada impuls yang lemah.
Penghantaran Impuls Melalui Sinapsis
Titik temu antara terminal akson salah satu neuron dengan neuron lain dinamakan sinapsis. Setiap terminal akson membengkak membentuk tonjolan sinapsis. Di dalam sitoplasma tonjolan sinapsis terdapat struktur kumpulan membran kecil berisi neurotransmitter; yang disebut vesikula sinapsis. Neuron yang berakhir pada tonjolan sinapsis disebut neuron pra-sinapsis. Membran ujung dendrit dari sel berikutnya yang membentuk sinapsis disebut post-sinapsis. Bila impuls sampai pada ujung neuron, maka vesikula bergerak dan melebur dengan membran pra-sinapsis. Kemudian vesikula akan melepaskan neurotransmitter berupa asetilkolin. Neurontransmitter adalah suatu zat kimia yang dapat menyeberangkan impuls dari neuron pra-sinapsis ke post-sinapsis. Neurontransmitter ada bermacam-macam misalnya asetilkolin yang terdapat di seluruh tubuh, noradrenalin terdapat di sistem saraf simpatik, dan dopamin serta serotonin yang terdapat di otak. Asetilkolin kemudian berdifusi melewati celah sinapsis dan menempel pada reseptor yang terdapat pada membran post-sinapsis. Penempelan asetilkolin pada reseptor menimbulkan impuls pada sel saraf berikutnya. Bila asetilkolin sudah melaksanakan tugasnya maka akan diuraikan oleh enzim asetilkolinesterase yang dihasilkan oleh membran post-sinapsis.
Antara saraf motor dan otot terdapat sinapsis berbentuk cawan dengan membran pra-sinapsis dan membran post-sinapsis yang terbentuk dari sarkolema yang mengelilingi sel otot. Prinsip kerjanya sama dengan sinapsis saraf-saraf lainnya.
SISTEM SARAF PADA AVERTEBRATA
Sistem saraf hewan bersel satu
Tidak semua Avertebrata memiliki sistem saraf. Hewan yang tergolong Protozoa dan Porifera tidak memiliki sistem saraf. Setiap sel penyusun tubuh hewan tersebut mampu mengadakan reaksi terhadap stimulus yang diterima dan tidak ada koordinasi antara satu sel dengan sel tubuh lainnya. Hewan bersel satu seperti Amoeba dan Paramaecium meskipun tidak mempunyai urat saraf tapi protoplasmanya dapat melakukan segala kegiatan sebagai mahkluk hidup seperti iritabilitas, bergerak dan penyesuaian diri terhadap linngkungannya.
Sistem saraf pada Coelenterata
Pada Coelenterata akuatik seperti Hydra, ubur-ubur dan Anemon laut pada Mesoglea yang terletak diantara epidermis (ektoderm) dan gastrodermis (endoderm) terdapat sistem saraf diffus karena sel-sel saraf masih tersebar saling berhubungan satu sama lain menyerupai jala yang disebut saraf jala. Sistem saraf ini terdiri atas sel-sel saraf berkutub satu, berkutub dua, dan berkutub banyak yang membentuk sistem yang saling berhubungan seperti jala. Meskipun demikian impuls dari satu sel ke sel yang lainnya lewat melalui sinaps. Saraf jala sudah merupakan sistem sinaps tapi tidak mempunyai cirri-ciri sinaps.
Sistem saraf pada Echinodermata
Sistem saraf pada Echinodermata masih merupakan sistem saraf primitif. Meskipun sel-sel saraf tersusun dalam bentuk cincin saraf sekeliling rongga mulut dan mempunyai cabang ke tiap lengan, tetapi susunan saraf didalamnya masih diffus seperti jala belum ada pengelompokan dalam ganglion. Sel-sel saraf berhubungan (innervasi) dengan kaki pembuluh, duri dan lain-lain.
Gbr. Echinodermata dan bagian-bagiannya
Meskipun sistem saraf Echinodermata masih diffus seperti pada Coelenterata tapi sudah mempunyai struktur tertentu dan fungsinya sudah lebih maju. Terdapat sel saraf motorik, sel saraf sensorik dan telah ada refleks.
Pada bintang laut terdapat cincin saraf dalam cakram. Pada tiap penjuluran tubuhnya terdapat saraf radial pada sisi ventral. Saraf ini bercabang-cabang halus banyak sekali. Tiap saraf radial berakhir sebagai sebuah mata pada tiap penjuluran tubuh.
Sistem saraf pada Platyhelminthes
Platyhelminthes sudah memiliki sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sel-sel saraf pada cacing pipih terkonsentrasi menjadi sebuah ganglion dengan dua lobus di bagian muka yang disebut dengan ganglion kepala atau otak primitif. Dari ganglion kepala terdapat dua tali saraf memanjang ke belakang tubuhnya membentuk seperti tangga. Karena itu disebut saraf tangga tali. Sistem saraf tepi terdiri atas saraf-saraf yang tersusun secara transversal atau melintang yang menghubungkan tali saraf dengan saraf-saraf yang lebih kecil yang terletak tersebar di semua bagian tubuh. Ganglion kepala mempunyai peran sebagai pusat sensoris yang menerima impuls dari titik mata dan reseptor lainnya pada kepala. Ganglion kepala tidak mempunyai peran untuk mengkoordinasi aktifitas otot.
Gbr. Platyhelmintes dan bagian-bagiannya
1. Sistem Koordinasi Cacing
Susunan sistem saraf pada cacing berupa sistem tangga tali. Planaria, yang termasuk golongan cacing pipih memiliki sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi. Sistem saraf pusat Planaria terdapat pada otak disebut juga ganglion anterior. Otak ini berukuran kecil. Sistem saraf tepi cacing berupa dua saluran yang menuju ke arah posterior, masing-masing saraf tersebut berada di daerah lateral tubuh cacing, keduanya dihubungkan oleh saraf penghubung. Saraf yang juga tersusun simetri bilateral ini digunakan untuk merespon cahaya. Apabila cacing pipih terkena sinar, otak akan memerintahkan cacing bergerak ke tempat gelap, misalnya di bagian bawah batu. Perhatikan Gambar 9.21.
Berbeda dengan Planaria, Annelida (misalnya lintah) mempunyai jumlah neuron yang lebih banyak di bagian otak. Saraf yang terdapat di sepanjang tubuhnya merupakan saraf ventral yang tersusun atas beberapa ganglion. Di dalam ganglion terdapat interneuron yang mengoordinasi berbagai aksi pada setiap segmen.
NEMATODA
SISTEM SYARAF, sejumlah ganglia dan syaraf membentuk cincin yang mengelilingi ismus esofagus, dari cincin syaraf tersebut keluar 6 batang syaraf menuju ke anterior dan 4 ke posterior.
Sistem saraf pada Arthropoda
Sistem saraf pada arthropoda mempunyai struktur bilateral seperti pada cacing tanah, dan Mollusca primitif. Perkembangan yang kompleks pada otak arthropoda sangat berbeda dari spesies ke spesies tapimpada dasarnya mempunyai tiga bagian yaitu protoserebrum, deuteroserebrum dan tritoserebrum. Pada arthropoda otak merupakan stasiun relay sensorik dan mempunyai pengaruh untuk mengontrol ganglia segmental yang lebih rendah seperti pada toraks dan abdomen. Ganglia segmental pada hewan ini merupakan pusat refleks lokal.
Laba-laba mempunyai ganglion-ganglion ventral bersatu dengan ganglion dorsal, dan membentuk sebuah massa saraf yang ditembus oleh esofagus dan mengeluarkan banyak cabang. Ganglion dorsal itu sering disebut otak. Alat perasa yang pokok berupa 8 buah mata sederhana.
Pada udang terdapat otak disebuah dorsal, dengan dua buah penghubung sirkumesofageal dan sebuah rantai ganglion-ganglion di sebelah ventral. Ganglion ventral pertama besar berhubungan dengan beberapa persatuan ganglion. Saraf bercabang dari otak dan korda ventral.
Gbr. Udang (klas Crustacea) dan bagian-bagiannya
Perasa sentuhan dan perasa kimia (pembau dan peraba) pada hewan ini sangat kuat, dan organ-organnya terdapat pada alat-alat tambahan anterior. Ada 2 buah mata majemuk yang tersususn dari banyak unit optik yang disebut ommatidium. Tiap mata majemuk itu terdapat pada sebuah tangkai. Organ keseimbangan, statokis, terdapat pada dasar antenul-antenul.
Belalang mempunyai sebuah otak dorsal atau juga disebut ganglion serebral yang bilobus. Otak dorsal itu disatukan dengan korda ventral oleh dua penghubung sikumesofageal. Dalam korda ventral terdapat 3 buah ganglion toraksis dan 5 buah ganglion abdominalis. Cabang-cabang saraf keluar dari sistem saraf sentral.
Gbr. Belalang (klas Insecta) bagian-bagiannya
Antena dan palpus mungkin mengandung alat-alat (akhir saraf) untuk meraba,merasa, dan membau sesuatu. Sebuah membrana tympani terdapat pada permukaan segmen abdomen pertama. Membrana tympani itu terlibat atau terbawa serta dalam mendeteksi suara. Pada sayap dan kaki belalang sering terdapat alat-alat untuk membuat suara. Belalang mempunyai 2 buah mata majemuk yang besar-besar, terdiri dari ommatidia. Di samping itu ada 3 oselli atau 3 buah mata sederhana
2. Sistem Koordinasi Serangga
Sistem saraf serangga juga terdiri dari sistem saraf pusat dan sistem saraf tepi, berupa sistem saraf tangga tali. Pada belalang sistem saraf pusat tersusun atas kelompok-kelompok badan sel saraf yang disebut ganglia. Tiap-tiap ganglia dihubungkan oleh satu atau lebih tali-tali saraf. Sementara itu, saraf tepi belalang tersusun oleh akson sensorik dan akson motorik ke dan dari ganglia. Perhatikan Gambar 9.22.
Pada serangga kelenjar endokrin lebih banyak digunakan untuk proses pertumbuhan dan metamorfosis. Selama masa pertumbuhan, serangga akan menanggalkan eksoskeletonnya secara berkala. Proses pergantian kulit ini disebut molting. Molting terjadi sampai stadium dewasa. Hormon yang menyebabkan terjadinya molting adalah hormon ekdison. Hormon ini dihasilkan dari kerja sama kelenjar protorasik yang terletak di dalam dada dan hormon yang dihasilkan oleh otak.
Otak serangga juga menghasilkan hormon yang mempengaruhi proses metamorfosis, yaitu hormon juvenil. Hormon ini berfungsi menghambat proses metamorfosis. Sekresi hormon juvenil yang cukup akan membuat ekdison merangsang pertumbuhan larva. Namun, jika sekresi hormon ini berkurang maka ekdison akan merangsang perkembangan pupa. Perhatikan proses pergantian kulit pada gambar berikut. Perhatikan Gambar 9.23.
Apabila hormon ini dihilangkan dengan cara mengambil kelenjar korpora alata maka segera terjadi proses metamorfosis dan menyebabkan perkembangan hewan dewasa.
Serangga juga menghasilkan feromon, misalnya semut-semut mensekresikannya dari kelenjar di dalam kepalanya. Hormon ini cepat berdifusi ke segala arah. Feromon dapat tercium oleh semut-semut lain yang berada beberapa sentimeter dari sumbernya, misalnya pada jejak semut pekerja yang sedang kembali ke sarang dengan membawa makanan. Jejak ini menarik dan menuntun semut lain ke sumber makanan. Feromon diperbarui secara
terus-menerus sepanjang makanan tersebut masih ada. Akan tetapi, bila persediaan mulai menyusut maka semua pembuatan jejak berhenti. Jejak feromon semut menguap dengan cepat sehingga semut lain tidak dapat mencapai tempat itu.
Sistem indra penglihatan pada serangga berbeda dengan Molusca dan Vertebrata. Mata pada serangga disebut mata majemuk atau mata faset karena terdiri dari saluran berulang yaitu omatidia. Setiap saluran berfungsi sebagai reseptor penglihatan yang terpisah. Setiap omatidium menyumbangkan informasi yang hanya menamai satu daerah objek. Omatidium yang lain memberi informasi tentang daerah lainnya. Gabungan seluruh respon dari semua omatidia merupakan bayangan menarik, sehingga akan membentuk suatu pola cahaya dan bintik gelap yang menyusun seluruh pandangan.
Sistem saraf Annelida
Pada hewan Polychaeta terdapat ganglion serebral atau ganglion supraesofageal dapat juga disebut sebagai otak yang terletak di sebelah dorsal kepala. Ganglion supraesofageal itu dihubungkan dengan ganglion subesofageal oleh 2 buah saraf sirkumesofageal. Dari ganglion subesofageal itu mengalir ke belakang sebatang saraf ventral. Dalam setiap metamer atau segmen batang saraf ventral itu membuat tonjolan sebagai segmen ganglion. Batang saraf ventral bercabang-cabang lateral.
Palpus dan tentakel pada hewan ini merupakan indera yang menerima saraf dari ganglion supraesofageal. Terdapat mata sederhana sebanyak 4 buah. Mata sederhana itu terdiri dari kornea, lensa, dan retina sehingga analog dengan mata pada vertebrata.
Gbr. Annelida dan bagian-bagiannya
Sistem saraf pada Oligochaeta berupa sebuah ranting ganglion ventral, tiap segmen dengan satu rantai, mulai dari segmen ke-4. di samping iti ada ganglion suprafaringeal anterior yang juga disebut otak yang terletak dalam segmen ke-3. tali korda saraf di sekitar faring menghubungkan otak dengan ganglion ventral pertama. Dalam tiap metamer terdapat 3 pasang saraf yang berasal dari tali saraf ventral tersebut. Di dalam kulit cacing tanah terdapat organ-organ sensoris yang sensitive terhadap sentuhan dan cahaya.
Pada cacing tanah sudah mempunyai perkembangan sistem saraf yang lebih maju yaitu telah terbentuknya ganglia yang segmental sepanjang tubuhnya. Ganglion supraoesofagus yang disebut juga otak fungsinya masih tetap sebagai sebuah stasiun relay sensoris dari reseptor yang peka terhadap cahaya, sentuhan, dan zat kimia pada permukaan tubuh disekitarnya (bagian muka). Hewan ini mempunyai ganglion pada tiap ruas tubuhnya. Ganglia segmental tersebut dihubungkan dengan tali saraf ventral. Tiap ganglion mempunyai fungsi sebagai pusat yang menerima impuls dari saraf sensorik dari reseptor kulit yang ada disekitarnya. Selain itu terdapat serabut saraf berukuran besar yang menyebabkan otot longitudinal pada semua ruas berkontraksi bersama-sama.
Sistem saraf Mollusca
Pada tiram terdapat 3 pasang ganglion, sepasang dekat esophagus, sepasang dalam kaki, dan sepasang dekat ujung posterior massa visceral. Ganglion-ganglion itu dihubungkan satu dengan yang lain dengan serabut-serabut longitudinal dan yang anterior juga oleh serabut-serabut transversal.
Sel-sel sensori, mungkin peka terhadap sentuhan dan cahaya, terdapat di sepanjang batas mantel. Organ untuk mendeteksi gangguan keseimbangan terdapat pada tiram. Organ perasa kurang berkembang dibandingkan anggota molluska lainnya.
Gbr. Bekicot (klas Gastropoda) dan bagian-bagiannya
Pada bekicot, saraf-saraf ganglion secara rapat berpasangan sebagai saraf serebral (dorsal dari faring dan bukal), saraf kaki, saraf jeroan. Saraf-saraf dari ganglia itu melanjut keseluruh sistem organ.
Pada ujung tiap tentakel posterior (panjang) terdapat sebuah mata dengan kornea, lensa dan retina dan mungkin juga organ pencium (olfaktorius). Di bawah ganglia kaki terdapat sepasang statokis, yaitu organ keseimbangan, masing-masing mengandung benda-benda berkapur, silia dan sel-sel peraba. Dalam lapisan epidermis kepala dan kaki terdapat pula struktur peraba.
Pada gastropoda, serebral atau ganglion suboeofagus mempunyai peran untuk mengontrol ganglia yang lebih bawah. Aktifitas refleks atau gerakan pada hewan ini dikontrol oleh aktifitas 4 pasang ganglion yaitu ganglia serebral, pedal, pleural, dan viseral. Pada Cephalopoda (cumu-cumi, gurita) terdapat otak yang kompleks karena adanya penggabungan berbagai ganglia yang letaknya mengelilingi oesofagus. Karena itu otaknya mempunyai bagian supraoesofagus dan suboesofagus. Pada bagian suboesofagus terdapat pusat pernafasan untuk inspirasi dan ekspirasi. Selain itu terdapat pula bagian yang termasuk ganglia pedal dan branchial yang mengontrol lengan dan tentakel. Sedangkan bagian otak supraoesofagus berisi pusat motorik, pusat sensorik utama yang berupa lobus untuk pembau, dan kompleks dorsal vertikal.
Gbr. Cumi-cumi (klas Cephalopoda) dan bagian-bagiannya
SISTEM SARAF PADA VERTEBRATA
Sistem saraf Pisces
Ikan perak mempunyai otak yang pendek. Lobus olfaktorius, hemisfer serebral, dan diensefalon kecil, sedang lobus optikus dan serebellum besar. Ada 10 pasang saraf kranial. Korda saraf tertutup dengan lengkung-lengkung neural sehingga mengakibatkan saraf spinal berpasangan pada tiap segmen tubuh.
Terdapat pada ikan bertulang menulang yaitu saku olfaktoris pada moncong dengan sel-sel yang sensitif terhadap substansi yang larut dalam air, kuncup perasa di sekitar mulut. Mata lebar mungkin hanya jelas untuk melihat dekat, tetapi dapat digunakan untuk mendeteksi benda-benda yang bergerak diatas permukaan air atau di darat didekatnya. Telinga dalam dengan 3 saluran semisirkular, dan sebuah otolit untuk keseimbangan. Ikan tidak mempunyai telinga tengah jadi tidak ada gendang telinga. Oleh sebab itu, vibrasi atau suara diterima dan diteruskan melalui kepala atau tubuh. Garis lateral tubuh mempunyai perluasan di daerah kepala dan berguna untuk mendeteksi perubahan tekanan arus air (seperti menghindar dari batu-batuan). Garis lateral itu diinervasi oleh saraf kranial ke X (N. vagus),oleh sebab itu beberapa ahli berpendapat bahwa telinga tengah pada vertebrata air berasal sama seperti garis lateral.
Sistem saraf Amphibi
Otak terbagi atas lima bagian dan serebellum merupakan bagian yang terkecil. Ada 10 saraf kranial. Tiga saraf pertama membentuk pleksus brakeal. Saraf ke-7, ke-8, dan ke-9 membentuk pleksus iskiadikus.
Mata dengan kelopak mata atas dan kelopak mata bawah, dan ada lagi kelopak mata yang ketiga yang transparan (membran niktitans). Mata digerakkan oleh 6 otot, yaitu oto-otot superior, inferior, rektus internal, rektus eksternal, oblikus interior, dan oblikus superior.
Telinga dengan organ pendengar dan keseimbangan yang berupa 3 szlurzn semisirkular, yaitu vertikal anterior, vertikal posterior, dan horizontal. Membran timpani (dalam telinga tengah, tetapi tidak ada telinga luar), membawa implus-implus ke kolumella (tulang tipis dalam telinga tengah yang memancarkan implus-implus melalui stapes ke koklea).
Sistem saraf Reptil
Gbr. Reptil dan bagian-bagiannya
Otak dengan dua lobus olfaktorius yang panjang, hemisfer serebral, 2 lobus optikus, serebellum, medulla oblongata yang melanjut ke korda saraf. Di bawah hemisfer serebral terdapat traktus optikus dan syaraf optikus, infundibulum, dan hipofisis. Terdapat 12 pasang syaraf kranial. Pasangan-pasangan syaraf spinal menuju ke somit-somit tubuh.
Pada lidah terdapat kuncup-kuncup perasa, dan terdapat organ pembau pada rungga hidung. Mata dengan kelenjar air mata. Telinganya seperti telinga vertebrata rendah. Saluran auditori eksternal tertutup kulit, dengan membran tympani. Telinga dalam dengan tiga saluran semi sirkular untuk mendengar. Dari ruang tympani ada saluran eustachius dan bermuara dalam faring di belakang hidung dalam.
3. Sistem Koordinasi Ular dan Katak
Kedua hewan ini mempunyai organ respon reseptor bau (atau rasa) yang sangat baik, yaitu organ Jacobson. Organ ini terletak di langit-langit mulut. Secara bergantian mereka mengeluarkan lidahnya ke udara dan kemudian ke dalam organ Jacobson. Tingkah laku seperti itu membuat mereka dapat merasakan udara dan mendeteksi adanya bau.
Read more: http://khairul-anas.blogspot.com/2012/03/sistem-koordinasi-pada-hewan.html#ixzz1qsb6Umcu
Sistem saraf Aves
Bentuk otak dan bagian-bagiannya tipikal pada burung. Lobus olfaktorius kecil, serebrum besar sekali. Pada ventro-kaudal serebrum terletak serebellum dan ventral lobus optikus.lubang telinga nampak dari luar, dengan meatus auditoris eksternal terus kemembran tympani (gendang telinga). Telinga tengah dengan saluran-saluran semi sirkulat terus ke koklea. Pendengaran burung dara sangat baik. Dari telinga tengah ada saluran eustachius menuju ke faring dan bermuara pada langit-langitt bagian belakang.
Hidung sebagai organ pembau dimulai dengan dua lubang hidung yang berupa celah pada dorsal paruh. Indra pencium pada burung kurang baik. Mata besar dengan pekten yaitu sebuah membran bervaskulasi dan berpikmen yang melekat pada mangkuk optik, dan melanjut kedalam humor vitreus. Syaraf optik memasuki sklera mata di tempat yanag disebut bingkai skleral. Mata dengan kelenjar air mata. Penglihatan terhadap warna sangat tajam dan cepat berakomodasi pada berbagai jarak.
Sistem saraf Mammalia
Cerebrum besar jika dibandingkan dengan keseluruhan otak. Serebelum juga besar dan berlobus lateral 2 buah. Lobus optikus ada 4 buah. Setiap bagian lateralnya dibagi oleh alur transversal menjadi lobus anterior dan posterior.
Mempunyai telinga luar. Gelombang suara disalurkan melalui meatus auditori eksternal ke membran tympani. Telinga tengah mengandung 3 buah osikel auditori. Koklea agak berkelok. Mata tidak mengandung pekten (seperti yang terdapat pada burung). Di banding dengan vertebrata yang lebih rendah, maka pada kelinci membran olfaktori lebih luas, organ pembau lebih efektif, karena membran olfaktori itu lebih luas. Hal itu disebabkan karena papan-papan tulang dalam rongga hidung bergulung-gulung membentuk kurva.
Pada prinsipnya sistem koordinasi hewan sama dengan sistem koordinasi manusia yaitu melibatkan hal-hal berikut.
1. Pelepasan zat kimia dari sel-sel ke dalam cairan ekstra sel.
2. Mentranspor zat dari bagian satu ke bagian yang lain.
3. Pengaktifan atau penonaktifan sel-sel yang dipengaruhi oleh zat. Pada subbab ini akan dibahas beberapa sistem koordinasi hewan yang memiliki sifat khusus. Hewan-hewan yang dimaksud di antaranya cacing, serangga, ular, dan katak.
SISTEM SARAF PADAAVERTEBRATA
Tidak semua Avertebrata memilikisistem saraf. Hewan yang tergolongProtozoa dan Porifera tidak memilikisistem saraf. Setiap sel penyusun tubuhhewan tersebut mampu mengadakanreaksi terhadap stimulus yang diterimadan tidak ada koordinasi antara satu seldengan sel tubuh lainnya. Hewan berselsatu seperti
Amoeba
dan
Paramaecium
meskipun tidak mempunyai urat saraf tapi protoplasmanya dapat melakukansegala kegiatan sebagai mahkluk hidupseperti iritabilitas, bergerak dan penyesuaian diri terhadaplinngkungannya.
Sistem saraf pada Coelenterata
Pada Coelenterata akuatik seperti Hydra,ubur-ubur dan Anemon laut padaMesoglea yang terletak diantaraepidermis (ektoderm) dan gastrodermis(endoderm) terdapat sistem saraf diffuskarena sel-sel saraf masih tersebar saling berhubungan satu sama lain menyerupai jala yang disebut saraf jala. Sistem saraf ini terdiri atas sel-sel saraf berkutub satu, berkutub dua, dan berkutub banyak yangmembentuk sistem yang saling berhubungan seperti jala. Meskipundemikian impuls dari satu sel ke sel yanglainnya lewat melalui sinaps. Saraf jalasudah merupakan sistem sinaps tapitidak mempunyai cirri-ciri sinaps.
Sistem saraf pada Echinodermata
Sistem saraf pada Echinodermata masihmerupakan sistem saraf primitif.Meskipun sel-sel saraf tersusun dalam bentuk cincin saraf sekeliling ronggamulut dan mempunyai cabang ke tiaplengan, tetapi susunan saraf didalamnyamasih diffus seperti jala belum ada pengelompokan dalam ganglion. Sel-selsaraf berhubungan (innervasi) dengankaki pembuluh, duri dan lain-lain.Gbr. Echinodermata dan bagian- bagiannyaMeskipun sistem saraf Echinodermatamasih diffus seperti pada Coelenteratatapi sudah mempunyai struktur tertentudan fungsinya sudah lebih maju.Terdapat sel saraf motorik, sel saraf sensorik dan telah ada refleks.Pada bintang laut terdapat cincin saraf dalam cakram. Pada tiap penjulurantubuhnya terdapat saraf radial pada sisiventral. Saraf ini bercabang-cabanghalus banyak sekali. Tiap saraf radial berakhir sebagai sebuah mata pada tiap penjuluran tubuh.
Sistem saraf pada Platyhelminthes
Platyhelminthes sudah memiliki sistemsaraf pusat dan sistem saraf tepi. Sel-selsaraf pada cacing pipih terkonsentrasimenjadi sebuah ganglion dengan dualobus di bagian muka yang disebutdengan ganglion kepala atau otak primitif. Dari ganglion kepala terdapatdua tali saraf memanjang ke belakangtubuhnya membentuk seperti tangga.Karena itu disebut saraf tangga tali.Sistem saraf tepi terdiri atas saraf-saraf
yang tersusun secara transversal ataumelintang yang menghubungkan talisaraf dengan saraf-saraf yang lebih kecilyang terletak tersebar di semua bagiantubuh. Ganglion kepala mempunyai peran sebagai pusat sensoris yangmenerima impuls dari titik mata danreseptor lainnya pada kepala. Ganglionkepala tidak mempunyai peran untuk mengkoordinasi aktifitas otot.Gbr. Platyhelmintes dan bagian- bagiannya
Sistem saraf pada Arthropoda
Sistem saraf pada arthropodamempunyai struktur bilateral seperti pada cacing tanah, dan Mollusca primitif. Perkembangan yang kompleks pada otak arthropoda sangat berbeda darispesies ke spesies tapimpada dasarnyamempunyai tiga bagian yaitu protoserebrum, deuteroserebrum dantritoserebrum. Pada arthropoda otak merupakan stasiun relay sensorik danmempunyai pengaruh untuk mengontrolganglia segmental yang lebih rendahseperti pada toraks dan abdomen.Ganglia segmental pada hewan inimerupakan pusat refleks lokal.Laba-laba mempunyai ganglion-ganglion ventral bersatu denganganglion dorsal, dan membentuk sebuahmassa saraf yang ditembus oleh esofagusdan mengeluarkan banyak cabang.Ganglion dorsal itu sering disebut otak.Alat perasa yang pokok berupa 8 buahmata sederhana.Pada udang terdapat otak disebuahdorsal, dengan dua buah penghubungsirkumesofageal dan sebuah rantaiganglion-ganglion di sebelah ventral.Ganglion ventral pertama besar berhubungan dengan beberapa persatuanganglion. Saraf bercabang dari otak dankorda ventral.Gbr. Udang (klas Crustacea) dan bagian- bagiannyaPerasa sentuhan dan perasa kimia(pembau dan peraba) pada hewan inisangat kuat, dan organ-organnyaterdapat pada alat-alat tambahananterior. Ada 2 buah mata majemuk yang tersususn dari banyak unit optik yang disebut ommatidium. Tiap matamajemuk itu terdapat pada sebuahtangkai. Organ keseimbangan, statokis,terdapat pada dasar antenul-antenul.Belalang mempunyai sebuah otak dorsalatau juga disebut ganglion serebral yang bilobus. Otak dorsal itu disatukandengan korda ventral oleh dua penghubung sikumesofageal. Dalamkorda ventral terdapat 3 buah gangliontoraksis dan 5 buah ganglionabdominalis. Cabang-cabang saraf keluar dari sistem saraf sentral.Gbr. Belalang (klas Insecta) bagian- bagiannya
inShare
Embed Doc
Copy Link
Readcast
Collections
1
Comments
Download
SISTEM SARAF PADAAVERTEBRATA
Tidak semua Avertebrata memilikisistem saraf. Hewan yang tergolongProtozoa dan Porifera tidak memilikisistem saraf. Setiap sel penyusun tubuhhewan tersebut mampu mengadakanreaksi terhadap stimulus yang diterimadan tidak ada koordinasi antara satu seldengan sel tubuh lainnya. Hewan berselsatu seperti
Amoeba
dan
Paramaecium
meskipun tidak mempunyai urat saraf tapi protoplasmanya dapat melakukansegala kegiatan sebagai mahkluk hidupseperti iritabilitas, bergerak dan penyesuaian diri terhadaplinngkungannya.
Sistem saraf pada Coelenterata
Pada Coelenterata akuatik seperti Hydra,ubur-ubur dan Anemon laut padaMesoglea yang terletak diantaraepidermis (ektoderm) dan gastrodermis(endoderm) terdapat sistem saraf diffuskarena sel-sel saraf masih tersebar saling berhubungan satu sama lain menyerupai jala yang disebut saraf jala. Sistem saraf ini terdiri atas sel-sel saraf berkutub satu, berkutub dua, dan berkutub banyak yangmembentuk sistem yang saling berhubungan seperti jala. Meskipundemikian impuls dari satu sel ke sel yanglainnya lewat melalui sinaps. Saraf jalasudah merupakan sistem sinaps tapitidak mempunyai cirri-ciri sinaps.
Sistem saraf pada Echinodermata
Sistem saraf pada Echinodermata masihmerupakan sistem saraf primitif.Meskipun sel-sel saraf tersusun dalam bentuk cincin saraf sekeliling ronggamulut dan mempunyai cabang ke tiaplengan, tetapi susunan saraf didalamnyamasih diffus seperti jala belum ada pengelompokan dalam ganglion. Sel-selsaraf berhubungan (innervasi) dengankaki pembuluh, duri dan lain-lain.Gbr. Echinodermata dan bagian- bagiannyaMeskipun sistem saraf Echinodermatamasih diffus seperti pada Coelenteratatapi sudah mempunyai struktur tertentudan fungsinya sudah lebih maju.Terdapat sel saraf motorik, sel saraf sensorik dan telah ada refleks.Pada bintang laut terdapat cincin saraf dalam cakram. Pada tiap penjulurantubuhnya terdapat saraf radial pada sisiventral. Saraf ini bercabang-cabanghalus banyak sekali. Tiap saraf radial berakhir sebagai sebuah mata pada tiap penjuluran tubuh.
Sistem saraf pada Platyhelminthes
Platyhelminthes sudah memiliki sistemsaraf pusat dan sistem saraf tepi. Sel-selsaraf pada cacing pipih terkonsentrasimenjadi sebuah ganglion dengan dualobus di bagian muka yang disebutdengan ganglion kepala atau otak primitif. Dari ganglion kepala terdapatdua tali saraf memanjang ke belakangtubuhnya membentuk seperti tangga.Karena itu disebut saraf tangga tali.Sistem saraf tepi terdiri atas saraf-saraf
yang tersusun secara transversal ataumelintang yang menghubungkan talisaraf dengan saraf-saraf yang lebih kecilyang terletak tersebar di semua bagiantubuh. Ganglion kepala mempunyai peran sebagai pusat sensoris yangmenerima impuls dari titik mata danreseptor lainnya pada kepala. Ganglionkepala tidak mempunyai peran untuk mengkoordinasi aktifitas otot.Gbr. Platyhelmintes dan bagian- bagiannya
Sistem saraf pada Arthropoda
Sistem saraf pada arthropodamempunyai struktur bilateral seperti pada cacing tanah, dan Mollusca primitif. Perkembangan yang kompleks pada otak arthropoda sangat berbeda darispesies ke spesies tapimpada dasarnyamempunyai tiga bagian yaitu protoserebrum, deuteroserebrum dantritoserebrum. Pada arthropoda otak merupakan stasiun relay sensorik danmempunyai pengaruh untuk mengontrolganglia segmental yang lebih rendahseperti pada toraks dan abdomen.Ganglia segmental pada hewan inimerupakan pusat refleks lokal.Laba-laba mempunyai ganglion-ganglion ventral bersatu denganganglion dorsal, dan membentuk sebuahmassa saraf yang ditembus oleh esofagusdan mengeluarkan banyak cabang.Ganglion dorsal itu sering disebut otak.Alat perasa yang pokok berupa 8 buahmata sederhana.Pada udang terdapat otak disebuahdorsal, dengan dua buah penghubungsirkumesofageal dan sebuah rantaiganglion-ganglion di sebelah ventral.Ganglion ventral pertama besar berhubungan dengan beberapa persatuanganglion. Saraf bercabang dari otak dankorda ventral.Gbr. Udang (klas Crustacea) dan bagian- bagiannyaPerasa sentuhan dan perasa kimia(pembau dan peraba) pada hewan inisangat kuat, dan organ-organnyaterdapat pada alat-alat tambahananterior. Ada 2 buah mata majemuk yang tersususn dari banyak unit optik yang disebut ommatidium. Tiap matamajemuk itu terdapat pada sebuahtangkai. Organ keseimbangan, statokis,terdapat pada dasar antenul-antenul.Belalang mempunyai sebuah otak dorsalatau juga disebut ganglion serebral yang bilobus. Otak dorsal itu disatukandengan korda ventral oleh dua penghubung sikumesofageal. Dalamkorda ventral terdapat 3 buah gangliontoraksis dan 5 buah ganglionabdominalis. Cabang-cabang saraf keluar dari sistem saraf sentral.Gbr. Belalang (klas Insecta) bagian- bagiannya
Antena dan palpus mungkinmengandung alat-alat (akhir saraf) untuk meraba,merasa, dan membau sesuatu.Sebuah membrana tympani terdapat pada permukaan segmen abdomen pertama. Membrana tympani itu terlibatatau terbawa serta dalam mendeteksisuara. Pada sayap dan kaki belalangsering terdapat alat-alat untuk membuatsuara. Belalang mempunyai 2 buah matamajemuk yang besar-besar, terdiri dariommatidia. Di samping itu ada 3 oselliatau 3 buah mata sederhana
Sistem saraf Annelida
Pada hewan Polychaeta terdapatganglion serebral atau ganglionsupraesofageal dapat juga disebutsebagai otak yang terletak di sebelahdorsal kepala. Ganglion supraesofagealitu dihubungkan dengan ganglionsubesofageal oleh 2 buah saraf sirkumesofageal. Dari ganglionsubesofageal itu mengalir ke belakangsebatang saraf ventral. Dalam setiapmetamer atau segmen batang saraf ventral itu membuat tonjolan sebagaisegmen ganglion. Batang saraf ventral bercabang-cabang lateral.Palpus dan tentakel pada hewan inimerupakan indera yang menerima saraf dari ganglion supraesofageal. Terdapatmata sederhana sebanyak 4 buah. Matasederhana itu terdiri dari kornea, lensa,dan retina sehingga analog dengan mata pada vertebrata.Gbr. Annelida dan bagian-bagiannya
Sistem saraf pada Oligochaeta
berupasebuah ranting ganglion ventral, tiapsegmen dengan satu rantai, mulai darisegmen ke-4. di samping iti ada ganglionsuprafaringeal anterior yang juga disebutotak yang terletak dalam segmen ke-3.tali korda saraf di sekitar faringmenghubungkan otak dengan ganglionventral pertama. Dalam tiap metamer terdapat 3 pasang saraf yang berasal daritali saraf ventral tersebut. Di dalam kulitcacing tanah terdapat organ-organsensoris yang sensitive terhadapsentuhan dan cahaya.Pada cacing tanah sudah mempunyai perkembangan sistem saraf yang lebihmaju yaitu telah terbentuknya gangliayang segmental sepanjang tubuhnya.Ganglion supraoesofagus yang disebut juga otak fungsinya masih tetap sebagaisebuah stasiun relay sensoris darireseptor yang peka terhadap cahaya,sentuhan, dan zat kimia pada permukaantubuh disekitarnya (bagian muka).Hewan ini mempunyai ganglion padatiap ruas tubuhnya. Ganglia segmental
SISTEM SARAF PADAVERTEBRATASistem saraf Pisces
Ikan perak mempunyai otak yang pendek. Lobus olfaktorius, hemisfer serebral, dan diensefalon kecil, sedanglobus optikus dan serebellum besar. Ada10 pasang saraf kranial. Korda saraf tertutup dengan lengkung-lengkungneural sehingga mengakibatkan saraf spinal berpasangan pada tiap segmentubuh.Terdapat pada ikan bertulang menulangyaitu saku olfaktoris pada moncongdengan sel-sel yang sensitif terhadapsubstansi yang larut dalam air, kuncup perasa di sekitar mulut. Mata lebar mungkin hanya jelas untuk melihatdekat, tetapi dapat digunakan untuk mendeteksi benda-benda yang bergerak diatas permukaan air atau di daratdidekatnya. Telinga dalam dengan 3saluran semisirkular, dan sebuah otolituntuk keseimbangan. Ikan tidak mempunyai telinga tengah jadi tidak adagendang telinga. Oleh sebab itu, vibrasiatau suara diterima dan diteruskanmelalui kepala atau tubuh. Garis lateraltubuh mempunyai perluasan di daerahkepala dan berguna untuk mendeteksi perubahan tekanan arus air (sepertimenghindar dari batu-batuan). Garislateral itu diinervasi oleh saraf kranial keX (N. vagus),oleh sebab itu beberapaahli berpendapat bahwa telinga tengah pada vertebrata air berasal sama sepertigaris lateral.
Sistem saraf Amphibi
Otak terbagi atas lima bagian danserebellum merupakan bagian yangterkecil. Ada 10 saraf kranial. Tiga saraf pertama membentuk pleksus brakeal.Saraf ke-7, ke-8, dan ke-9 membentuk pleksus iskiadikus.Mata dengan kelopak mata atas dankelopak mata bawah, dan ada lagikelopak mata yang ketiga yangtransparan (membran niktitans). Matadigerakkan oleh 6 otot, yaitu oto-ototsuperior, inferior, rektus internal, rektuseksternal, oblikus interior, dan oblikussuperior.Telinga dengan organ pendengar dankeseimbangan yang berupa 3 szlurznsemisirkular, yaitu vertikal anterior,vertikal posterior, dan horizontal.Membran timpani (dalam telinga tengah,tetapi tidak ada telinga luar), membawaimplus-implus ke kolumella (tulang tipisdalam telinga tengah yang memancarkanimplus-implus melalui stapes ke koklea).
Sistem saraf Reptil
Gbr. Reptil dan bagian-bagiannyaOtak dengan dua lobus olfaktorius yang panjang, hemisfer serebral, 2 lobusoptikus, serebellum, medulla oblongatayang melanjut ke korda saraf. Di bawahhemisfer serebral terdapat traktusoptikus dan syaraf optikus,infundibulum, dan hipofisis. Terdapat 12 pasang syaraf kranial. Pasangan- pasangan syaraf spinal menuju ke somit-somit tubuh.
Pada lidah terdapat kuncup-kuncup perasa, dan terdapat organ pembau padarungga hidung. Mata dengan kelenjar air mata. Telinganya seperti telingavertebrata rendah. Saluran auditorieksternal tertutup kulit, dengan membrantympani. Telinga dalam dengan tigasaluran semi sirkular untuk mendengar.Dari ruang tympani ada saluraneustachius dan bermuara dalam faring di belakang hidung dalam.Sistem saraf AvesBentuk otak dan bagian-bagiannyatipikal pada burung. Lobus olfaktoriuskecil, serebrum besar sekali. Padaventro-kaudal serebrum terletak serebellum dan ventral lobusoptikus.lubang telinga nampak dari luar,dengan meatus auditoris eksternal teruskemembran tympani (gendang telinga).Telinga tengah dengan saluran-saluransemi sirkulat terus ke koklea.Pendengaran burung dara sangat baik.Dari telinga tengah ada saluraneustachius menuju ke faring dan bermuara pada langit-langitt bagian belakang.Hidung sebagai organ pembau dimulaidengan dua lubang hidung yang berupacelah pada dorsal paruh. Indra pencium pada burung kurang baik. Mata besar dengan pekten yaitu sebuah membran bervaskulasi dan berpikmen yangmelekat pada mangkuk optik, danmelanjut kedalam humor vitreus. Syaraf optik memasuki sklera mata di tempatyanag disebut bingkai skleral. Matadengan kelenjar air mata. Penglihatanterhadap warna sangat tajam dan cepat berakomodasi pada berbagai jarak.Sistem saraf MammaliaCerebrum besar jika dibandingkandengan keseluruhan otak. Serebelum juga besar dan berlobus lateral 2 buah.Lobus optikus ada 4 buah. Setiap bagianlateralnya dibagi oleh alur transversalmenjadi lobus anterior dan posterior.Mempunyai telinga luar. Gelombangsuara disalurkan melalui meatus auditorieksternal ke membran tympani. Telingatengah mengandung 3 buah osikelauditori. Koklea agak berkelok. Matatidak mengandung pekten (seperti yangterdapat pada burung). Di bandingdengan vertebrata yang lebih rendah,maka pada kelinci membran olfaktorilebih luas, organ pembau lebih efektif,karena membran olfaktori itu lebih luas.Hal itu disebabkan karena papan-papantulang dalam rongga hidung bergulung-gulung membentuk kurva.Gbr. Reptil dan bagian-bagiannya
Senin, 02 April 2012
Sabtu, 18 Februari 2012
b.
WANITA
Dibedakana menjadi organ kelamin luar dan organ kelamin dalam.
Organ reproduksi luar terdiri dari :
1.
Vagina merupakan saluran yang menghubungkan organ uterus dengan tubuh bagian luar. Berfungsi sebagai organ kopulasi dan saluran persalinan keluarnya bayi sehingga sering disebut dengan liang peranakan. Di dalam vagina ditemukan selaput dara.
2.
Vulva merupakan suatu celah yang terdapat di bagian luar dan terbagi menjadi 2 bagian yaitu :
ô€€¹
Labium mayor merupakan sepasang bibir besar yang terletak di bagian luas dan membatasi vulva.
ô€€¹
Labium minor merupakan sepasang bibir kecil yang terletak di bagian dalam dan membatasi vulva
Organ reproduksi dalam terdiri dari :
1.
Ovarium merupakan organ utama pada wanita. Berjumlah sepasang dan terletak di dalam rongga perut pada daerah pinggang sebelah kiri dan kanan. Berfungsi untuk menghasilkan sel ovum dan hormon wanita seperti :
ô€€¹
Estrogen yang berfungsi untuk mempertahankan sifat sekunder pada wanita, serta juga membantu dalam prosers pematangan sel ovum.
ô€€¹
Progesterone yang berfungsi dalam memelihara masa kehamilan.
2.
Fimbriae merupakan serabut/silia lembut yang terdapat di bagian pangkal ovarium berdekatan dengan ujung saluran oviduct. Berfungsi untuk menangkap sel ovum yang telah matang yang dikeluarkan oleh ovarium.
3.
Infundibulum merupakan bagian ujung oviduct yang berbentuk corong/membesar dan berdekatan dengan fimbriae. Berfungsi menampung sel ovum yang telah ditangkap oleh fimbriae.
4.
Tuba fallopi merupakan saluran memanjang setelah infundibulum yang bertugas sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus dengan bantuan silia pada dindingnya.
5.
Oviduct merupakan saluran panjang kelanjutan dari tuba fallopi. Berfungsi sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus dengan bantuan silia pada dindingnya.
6.
Uterus merupakan organ yang berongga dan berotot. Berbentuk seperti buah pir dengan bagian bawah yang mengecil. Berfungsi sebagai tempat pertumbuhan embrio. Tipe uterus pada manusia adalah simpleks yaitu dengan satu ruangan yang hanya untuk satu janin. Uterus mempunyai 3 macam lapisan dinding yaitu :
ô€€¹
Perimetrium yaitu lapisanyang terluar yang berfungsi sebagai pelindung uterus.
ô€€¹
Miometrium yaitu lapisan yang kaya akan sel otot dan berfungsi untuk kontraksi dan relaksasi uterus dengan melebar dan kembali ke bentuk semula setiap bulannya.
ô€€¹
Endometrium merupakan lapisan terdalam yang kaya akan sel darah merah. Bila tidak terjadi pembuahanmaka dinding endometrium inilah yang akan meluruh bersamaan dengan sel ovum matang.
7.
Cervix merupakan bagian dasar dari uterus yang bentuknya menyempit sehingga disebut juga sebagai leher rahim. Menghubungkan uterus dengan saluran vagina dan sebagai jalan keluarnya janin dari uterus menuju saluran vagina.
8.
Saluran vagina merupakan saluran lanjutan dari cervic dan sampai pada vagina.
9.
Klitoris merupakan tonjolan kecil yang terletak di depan vulva. Sering disebut dengan klentit.
WANITA
Dibedakana menjadi organ kelamin luar dan organ kelamin dalam.
Organ reproduksi luar terdiri dari :
1.
Vagina merupakan saluran yang menghubungkan organ uterus dengan tubuh bagian luar. Berfungsi sebagai organ kopulasi dan saluran persalinan keluarnya bayi sehingga sering disebut dengan liang peranakan. Di dalam vagina ditemukan selaput dara.
2.
Vulva merupakan suatu celah yang terdapat di bagian luar dan terbagi menjadi 2 bagian yaitu :
ô€€¹
Labium mayor merupakan sepasang bibir besar yang terletak di bagian luas dan membatasi vulva.
ô€€¹
Labium minor merupakan sepasang bibir kecil yang terletak di bagian dalam dan membatasi vulva
Organ reproduksi dalam terdiri dari :
1.
Ovarium merupakan organ utama pada wanita. Berjumlah sepasang dan terletak di dalam rongga perut pada daerah pinggang sebelah kiri dan kanan. Berfungsi untuk menghasilkan sel ovum dan hormon wanita seperti :
ô€€¹
Estrogen yang berfungsi untuk mempertahankan sifat sekunder pada wanita, serta juga membantu dalam prosers pematangan sel ovum.
ô€€¹
Progesterone yang berfungsi dalam memelihara masa kehamilan.
2.
Fimbriae merupakan serabut/silia lembut yang terdapat di bagian pangkal ovarium berdekatan dengan ujung saluran oviduct. Berfungsi untuk menangkap sel ovum yang telah matang yang dikeluarkan oleh ovarium.
3.
Infundibulum merupakan bagian ujung oviduct yang berbentuk corong/membesar dan berdekatan dengan fimbriae. Berfungsi menampung sel ovum yang telah ditangkap oleh fimbriae.
4.
Tuba fallopi merupakan saluran memanjang setelah infundibulum yang bertugas sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus dengan bantuan silia pada dindingnya.
5.
Oviduct merupakan saluran panjang kelanjutan dari tuba fallopi. Berfungsi sebagai tempat fertilisasi dan jalan bagi sel ovum menuju uterus dengan bantuan silia pada dindingnya.
6.
Uterus merupakan organ yang berongga dan berotot. Berbentuk seperti buah pir dengan bagian bawah yang mengecil. Berfungsi sebagai tempat pertumbuhan embrio. Tipe uterus pada manusia adalah simpleks yaitu dengan satu ruangan yang hanya untuk satu janin. Uterus mempunyai 3 macam lapisan dinding yaitu :
ô€€¹
Perimetrium yaitu lapisanyang terluar yang berfungsi sebagai pelindung uterus.
ô€€¹
Miometrium yaitu lapisan yang kaya akan sel otot dan berfungsi untuk kontraksi dan relaksasi uterus dengan melebar dan kembali ke bentuk semula setiap bulannya.
ô€€¹
Endometrium merupakan lapisan terdalam yang kaya akan sel darah merah. Bila tidak terjadi pembuahanmaka dinding endometrium inilah yang akan meluruh bersamaan dengan sel ovum matang.
7.
Cervix merupakan bagian dasar dari uterus yang bentuknya menyempit sehingga disebut juga sebagai leher rahim. Menghubungkan uterus dengan saluran vagina dan sebagai jalan keluarnya janin dari uterus menuju saluran vagina.
8.
Saluran vagina merupakan saluran lanjutan dari cervic dan sampai pada vagina.
9.
Klitoris merupakan tonjolan kecil yang terletak di depan vulva. Sering disebut dengan klentit.
Metode Yang Digunakan Dalam Perakitan Tanaman Transgenik
Advertisement
Kadang dalam perakitan varietas tanaman tahan serangga hama, pemulia konvensional menghadapi suatu kendala yang sulit dipecahkan, yaitu langkanya atau tidak adanya sumber gen ketahanan di dalam koleksi plasma nutfah. Contoh sumber gen ketahanan yang langka adalah gen ketahanan terhadap serangga hama, misalnya penggerek batang padi, penggerek polong kedelai, hama boleng ubi jalar, penggerek buah kapas (cotton bolworm), dan penggerek jagung. Sifat-sifat ketahanan tersebut berasal dari gen-gen (materi genetik) yang diambil dari sumber yang berkualitas tersebut dapat berasal dari mikroorganisme, hewan dan dari jaringan tanaman yang telah diketahui memiliki gen ketahanan tertentu (Anonim a, 2009).
Teknologi transfer gen digunakan untuk mendapatkan tanaman hasil rekayasa genetika (tanaman transgenik) yang mempunyai sifat unggul yang diinginkan. Metode transfer gen dibedakan menjadi dua yaitu (anonim a, 2009):
A. Transfer gen secara langsung.
1. Particle bombardment (penembakan partikel / gene gun)
Prinsip dari metode ini adalah penembakan partikel DNA-coated secara langsung ke sel atau jaringan tanaman.
2. Karbid silikon
Suspensi sel tanaman yang akan ditransformasi dicampur dengan serat karbid silikon dan DNA plasmid dari gen yang diinginkan dimasukkan ke dalam tube (tabung eppendorf) kemudian dicampur dan diputar menggunakan vortex.
3. Elektroporasi
Metode transfer DNA yang umum digunakan pada tanaman monokotil adalah elektroporasi dari protoplas. Elektroporasi menggunakan perlakuan listrik bervoltase tinggi menyebabkan permiabilitas tibnggi pada membran sel dengan membentuk pori-pori sehingga DNA mudah penetrasi kedalam proptoplas. Perlakuan elektroporasi ini seringkali dikombinasikan dengan perlakuan poly ethylene glycol (PEG) pada protoplas.
B. Transfer gen secara tidak langsung
Pada tanaman monokotil, transfer gen sering menggunakan Agrobacterium tumefaciens. Agrobacterium tumefaciens strain liar (galur alami) memiliki plasmid Ti. Pada plasmid Ti terdapat T-DNA digunakan sebagai vektor untuk transformasi tanaman yang telah dihilangkan virulensinya (disarmed), sehingga sel tanaman yang ditransformasi mampu beregenerasi menjadi tanaman sehat hasil rekayasa genetika. Gen yang diinginkan dimasukkan ke dalam sel tanaman
Advertisement
Kadang dalam perakitan varietas tanaman tahan serangga hama, pemulia konvensional menghadapi suatu kendala yang sulit dipecahkan, yaitu langkanya atau tidak adanya sumber gen ketahanan di dalam koleksi plasma nutfah. Contoh sumber gen ketahanan yang langka adalah gen ketahanan terhadap serangga hama, misalnya penggerek batang padi, penggerek polong kedelai, hama boleng ubi jalar, penggerek buah kapas (cotton bolworm), dan penggerek jagung. Sifat-sifat ketahanan tersebut berasal dari gen-gen (materi genetik) yang diambil dari sumber yang berkualitas tersebut dapat berasal dari mikroorganisme, hewan dan dari jaringan tanaman yang telah diketahui memiliki gen ketahanan tertentu (Anonim a, 2009).
Teknologi transfer gen digunakan untuk mendapatkan tanaman hasil rekayasa genetika (tanaman transgenik) yang mempunyai sifat unggul yang diinginkan. Metode transfer gen dibedakan menjadi dua yaitu (anonim a, 2009):
A. Transfer gen secara langsung.
1. Particle bombardment (penembakan partikel / gene gun)
Prinsip dari metode ini adalah penembakan partikel DNA-coated secara langsung ke sel atau jaringan tanaman.
2. Karbid silikon
Suspensi sel tanaman yang akan ditransformasi dicampur dengan serat karbid silikon dan DNA plasmid dari gen yang diinginkan dimasukkan ke dalam tube (tabung eppendorf) kemudian dicampur dan diputar menggunakan vortex.
3. Elektroporasi
Metode transfer DNA yang umum digunakan pada tanaman monokotil adalah elektroporasi dari protoplas. Elektroporasi menggunakan perlakuan listrik bervoltase tinggi menyebabkan permiabilitas tibnggi pada membran sel dengan membentuk pori-pori sehingga DNA mudah penetrasi kedalam proptoplas. Perlakuan elektroporasi ini seringkali dikombinasikan dengan perlakuan poly ethylene glycol (PEG) pada protoplas.
B. Transfer gen secara tidak langsung
Pada tanaman monokotil, transfer gen sering menggunakan Agrobacterium tumefaciens. Agrobacterium tumefaciens strain liar (galur alami) memiliki plasmid Ti. Pada plasmid Ti terdapat T-DNA digunakan sebagai vektor untuk transformasi tanaman yang telah dihilangkan virulensinya (disarmed), sehingga sel tanaman yang ditransformasi mampu beregenerasi menjadi tanaman sehat hasil rekayasa genetika. Gen yang diinginkan dimasukkan ke dalam sel tanaman
Rabu, 30 November 2011
EKOLOGI TUMBUHAN
SUKSESI
Komunitas yang terdiri dari berbagai populasi bersifat dinamis dalam interaksinya yang berarti dalam ekosistem mengalami perubahan sepanjang masa. Perkembangan ekosistem menuju kedewasaan dan keseimbangan dikenal sebagai suksesi ekologis atau suksesi.
Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem klimaks atau telah tercapai keadaan seimbang (homeostatis).
Di alam ini terdapat dua macam suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.
1. Suksesi primer
Suksesi primer terjadi bila komunitas asal terganggu. Gangguan ini mengakibatkan hilangnya komunitas asal tersebut secara total sehingga di tempat komunitas asal terbentuk habitat baru. Gangguan ini dapat terjadi secara alami, misalnya tanah longsor, letusan gunung berapi, endapan Lumpur yang baru di muara sungai, dan endapan pasir di pantai. Gangguan dapat pula karena perbuatan manusia misalnya penambangan timah, batubara, dan minyak bumi. Contoh yang terdapat di Indonesia adalah terbentuknya suksesi di Gunung Krakatau yang pernah meletus pada tahun 1883. Di daerah bekas letusan gunung Krakatau mula-mula muncul pioner berupa lumut kerak (liken) serta tumbuhan lumut yang tahan terhadap penyinaran matahari dan kekeringan. Tumbuhan perintis itu mulai mengadakan pelapukan pada daerah permukaan lahan, sehingga terbentuk tanah sederhana. Bila tumbuhan perintis mati maka akan mengundang datangnya pengurai. Zat yang terbentuk karma aktivitas penguraian bercampur dengan hasil pelapukan lahan membentuk tanah yang lebih kompleks susunannya. Dengan adanya tanah ini, biji yang datang dari luar daerah dapat tumbuh dengan subur. Kemudian rumput yang tahan kekeringan tumbuh. Bersamaan dengan itu tumbuhan herba pun tumbuh menggantikan tanaman pioner dengan menaunginya. Kondisi demikian tidak menjadikan pioner subur tapi sebaliknya.
Sementara itu, rumput dan belukar dengan akarnya yang kuat terns mengadakan pelapukan lahan.Bagian tumbuhan yang mati diuraikan oleh jamur sehingga keadaan tanah menjadi lebih tebal. Kemudian semak tumbuh. Tumbuhan semak menaungi rumput dan belukar maka terjadilah kompetisi. Lama kelamaan semak menjadi dominan kemudian pohon mendesak tumbuhan belukar sehingga terbentuklah hutan. Saat itulah ekosistem disebut mencapai kesetimbangan atau dikatakan ekosistem mencapai klimaks, yakni perubahan yang terjadi sangat kecil sehingga tidak banyak mengubah ekosistem itu. Lihat Gambar 7.11.
2. Suksesi Sekunder
Suksesi sekunder terjadi bila suatu komunitas mengalami gangguan, balk secara alami maupun buatan. Gangguan tersebut tidak merusak total tempat tumbuh organisme sehingga dalam komunitas tersebut substrat lama dan kehidupan masih ada. Contohnya, gangguan alami misalnya banjir, gelombang taut, kebakaran, angin kencang, dan gangguan buatan seperti penebangan hutan dan pembakaran padang rumput dengan sengaja.
Contoh komunitas yang menimbulkan suksesi di Indonesia antara lain tegalan-tegalan, padang alang-alang, belukar bekas ladang, dan kebun karet yang ditinggalkan tak terurus. Lihat Gambar 7.12.
Ekosistem merupakan suatu interaksi yang kompleks dan memiliki penyusun yang beragam. Di bumi ada bermacam-macam ekosistem.
1. Susunan Ekosistem
Dilihat dari susunan dan fungsinya, suatu ekosistem tersusun atas komponen sebagai berikut.
a. Komponen autotrof
(Auto = sendiri dan trophikos = menyediakan makan).
Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen, contohnya tumbuh-tumbuhan hijau.
b. Komponen heterotrof
(Heteros = berbeda, trophikos = makanan).
Heterotrof merupakan organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik sebagai makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh organisme lain. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba.
c. Bahan tak hidup (abiotik)
Bahan tak hidup yaitu komponen fisik dan kimia yang terdiri dari tanah, air, udara, sinar matahari. Bahan tak hidup merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup.
d. Pengurai (dekomposer)
Pengurai adalah organisme heterotrof yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati (bahan organik kompleks). Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Termasuk pengurai ini adalah bakteri dan jamur.
2. Macam-macam Ekosistem
Secara garis besar ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air Laut.
a. Ekosistem darat
Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat dibedakan menjadi beberapa bioma, yaitu sebagai berikut.
1. Bioma gurun
Beberapa Bioma gurun terdapat di daerah tropika (sepanjang garis balik) yang berbatasan dengan padang rumput.
Ciri-ciri bioma gurun adalah gersang dan curah hujan rendah (25 cm/tahun). Suhu slang hari tinggi (bisa mendapai 45°C) sehingga penguapan juga tinggi, sedangkan malam hari suhu sangat rendah (bisa mencapai 0°C). Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar. Tumbuhan semusim yang terdapat di gurun berukuran kecil. Selain itu, di gurun dijumpai pula tumbuhan menahun berdaun seperti duri contohnya kaktus, atau tak berdaun dan memiliki akar panjang serta mempunyai jaringan untuk menyimpan air. Hewan yang hidup di gurun antara lain rodentia, ular, kadal, katak, dan kalajengking.
2. Bioma padang rumput
Bioma ini terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik. Ciri-cirinya adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun dan hujan turun tidak teratur. Porositas (peresapan air) tinggi dan drainase (aliran air) cepat. Tumbuhan yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang keduanya tergantung pada kelembapan. Hewannya antara lain: bison, zebra, singa, anjing liar, serigala, gajah, jerapah, kangguru, serangga, tikus dan ular
3. Bioma Hutan Basah
Bioma Hutan Basah terdapat di daerah tropika dan subtropik.
Ciri-cirinya adalah, curah hujan 200-225 cm per tahun. Species pepohonan relatif banyak, jenisnya berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung letak geografisnya. Tinggi pohon utama antara 20-40 m, cabang-cabang pohon tinngi dan berdaun lebat hingga membentuk tudung (kanopi). Dalam hutan basah terjadi perubahan iklim mikro (iklim yang langsung terdapat di sekitar organisme). Daerah tudung cukup mendapat sinar matahari. Variasi suhu dan kelembapan tinggi/besar; suhu sepanjang hari sekitar 25°C. Dalam hutan basah tropika sering terdapat tumbuhan khas, yaitu liana (rotan), kaktus, dan anggrek sebagai epifit. Hewannya antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.
4. Bioma hutan gugur
Bioma hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang,
Ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun. Terdapat di daerah yang mengalami empat musim (dingin, semi, panas, dan gugur). Jenis pohon sedikit (10 s/d 20) dan tidak terlalu rapat. Hewannya antara lain rusa, beruang, rubah, bajing, burung pelatuk, dan rakoon (sebangsa luwak).
5. Bioma taiga
Bioma taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah tropik. Ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya taiga merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dap sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali. Hewannya antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.
6. Bioma tundra
Bioma tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi. Pertumbuhan tanaman di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan adalah Sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek, dan rumput. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin.
Hewan yang hidup di daerah ini ada yang menetap dan ada yang datang pada musim panas, semuanya berdarah panas. Hewan yang menetap memiliki rambut atau bulu yang tebal, contohnya muscox, rusa kutub, beruang kutub, dan insekta terutama nyamuk dan lalat hitam.
b. Ekosistem Air Tawar
Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.
Adaptasi organisme air tawar adalah sebagai berikut.
Adaptasi tumbuhan
Tumbuhan yang hidup di air tawar biasanya bersel satu dan dinding selnya kuat seperti beberapa alga biru dan alga hijau. Air masuk ke dalam sel hingga maksimum dan akan berhenti sendiri. Tumbuhan tingkat tinggi, seperti teratai (Nymphaea gigantea), mempunyai akar jangkar (akar sulur). Hewan dan tumbuhan rendah yang hidup di habitat air, tekanan osmosisnya sama dengan tekanan osmosis lingkungan atau isotonis.
Adaptasi hewan
Ekosistem air tawar dihuni oleh nekton. Nekton merupakan hewan yang bergerak aktif dengan menggunakan otot yang kuat. Hewan tingkat tinggi yang hidup di ekosistem air tawar, misalnya ikan, dalam mengatasi perbedaan tekanan osmosis melakukan osmoregulasi untuk memelihara keseimbangan air dalam tubuhnya melalui sistem ekskresi, insang, dan pencernaan.
Habitat air tawar merupakan perantara habitat laut dan habitat darat. Penggolongan organisme dalam air dapat berdasarkan aliran energi dan kebiasaan hidup.
Komunitas yang terdiri dari berbagai populasi bersifat dinamis dalam interaksinya yang berarti dalam ekosistem mengalami perubahan sepanjang masa. Perkembangan ekosistem menuju kedewasaan dan keseimbangan dikenal sebagai suksesi ekologis atau suksesi.
Suksesi terjadi sebagai akibat dari modifikasi lingkungan fisik dalam komunitas atau ekosistem. Proses suksesi berakhir dengan sebuah komunitas atau ekosistem klimaks atau telah tercapai keadaan seimbang (homeostatis).
Di alam ini terdapat dua macam suksesi, yaitu suksesi primer dan suksesi sekunder.
1. Suksesi primer
Suksesi primer terjadi bila komunitas asal terganggu. Gangguan ini mengakibatkan hilangnya komunitas asal tersebut secara total sehingga di tempat komunitas asal terbentuk habitat baru. Gangguan ini dapat terjadi secara alami, misalnya tanah longsor, letusan gunung berapi, endapan Lumpur yang baru di muara sungai, dan endapan pasir di pantai. Gangguan dapat pula karena perbuatan manusia misalnya penambangan timah, batubara, dan minyak bumi. Contoh yang terdapat di Indonesia adalah terbentuknya suksesi di Gunung Krakatau yang pernah meletus pada tahun 1883. Di daerah bekas letusan gunung Krakatau mula-mula muncul pioner berupa lumut kerak (liken) serta tumbuhan lumut yang tahan terhadap penyinaran matahari dan kekeringan. Tumbuhan perintis itu mulai mengadakan pelapukan pada daerah permukaan lahan, sehingga terbentuk tanah sederhana. Bila tumbuhan perintis mati maka akan mengundang datangnya pengurai. Zat yang terbentuk karma aktivitas penguraian bercampur dengan hasil pelapukan lahan membentuk tanah yang lebih kompleks susunannya. Dengan adanya tanah ini, biji yang datang dari luar daerah dapat tumbuh dengan subur. Kemudian rumput yang tahan kekeringan tumbuh. Bersamaan dengan itu tumbuhan herba pun tumbuh menggantikan tanaman pioner dengan menaunginya. Kondisi demikian tidak menjadikan pioner subur tapi sebaliknya.
Sementara itu, rumput dan belukar dengan akarnya yang kuat terns mengadakan pelapukan lahan.Bagian tumbuhan yang mati diuraikan oleh jamur sehingga keadaan tanah menjadi lebih tebal. Kemudian semak tumbuh. Tumbuhan semak menaungi rumput dan belukar maka terjadilah kompetisi. Lama kelamaan semak menjadi dominan kemudian pohon mendesak tumbuhan belukar sehingga terbentuklah hutan. Saat itulah ekosistem disebut mencapai kesetimbangan atau dikatakan ekosistem mencapai klimaks, yakni perubahan yang terjadi sangat kecil sehingga tidak banyak mengubah ekosistem itu. Lihat Gambar 7.11.
2. Suksesi Sekunder
Suksesi sekunder terjadi bila suatu komunitas mengalami gangguan, balk secara alami maupun buatan. Gangguan tersebut tidak merusak total tempat tumbuh organisme sehingga dalam komunitas tersebut substrat lama dan kehidupan masih ada. Contohnya, gangguan alami misalnya banjir, gelombang taut, kebakaran, angin kencang, dan gangguan buatan seperti penebangan hutan dan pembakaran padang rumput dengan sengaja.
Contoh komunitas yang menimbulkan suksesi di Indonesia antara lain tegalan-tegalan, padang alang-alang, belukar bekas ladang, dan kebun karet yang ditinggalkan tak terurus. Lihat Gambar 7.12.
Ekosistem merupakan suatu interaksi yang kompleks dan memiliki penyusun yang beragam. Di bumi ada bermacam-macam ekosistem.
1. Susunan Ekosistem
Dilihat dari susunan dan fungsinya, suatu ekosistem tersusun atas komponen sebagai berikut.
a. Komponen autotrof
(Auto = sendiri dan trophikos = menyediakan makan).
Autotrof adalah organisme yang mampu menyediakan/mensintesis makanan sendiri yang berupa bahan organik dari bahan anorganik dengan bantuan energi seperti matahari dan kimia. Komponen autotrof berfungsi sebagai produsen, contohnya tumbuh-tumbuhan hijau.
b. Komponen heterotrof
(Heteros = berbeda, trophikos = makanan).
Heterotrof merupakan organisme yang memanfaatkan bahan-bahan organik sebagai makanannya dan bahan tersebut disediakan oleh organisme lain. Yang tergolong heterotrof adalah manusia, hewan, jamur, dan mikroba.
c. Bahan tak hidup (abiotik)
Bahan tak hidup yaitu komponen fisik dan kimia yang terdiri dari tanah, air, udara, sinar matahari. Bahan tak hidup merupakan medium atau substrat tempat berlangsungnya kehidupan, atau lingkungan tempat hidup.
d. Pengurai (dekomposer)
Pengurai adalah organisme heterotrof yang menguraikan bahan organik yang berasal dari organisme mati (bahan organik kompleks). Organisme pengurai menyerap sebagian hasil penguraian tersebut dan melepaskan bahan-bahan yang sederhana yang dapat digunakan kembali oleh produsen. Termasuk pengurai ini adalah bakteri dan jamur.
2. Macam-macam Ekosistem
Secara garis besar ekosistem dibedakan menjadi ekosistem darat dan ekosistem perairan. Ekosistem perairan dibedakan atas ekosistem air tawar dan ekosistem air Laut.
a. Ekosistem darat
Ekosistem darat ialah ekosistem yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak geografisnya (garis lintangnya), ekosistem darat dibedakan menjadi beberapa bioma, yaitu sebagai berikut.
1. Bioma gurun
Beberapa Bioma gurun terdapat di daerah tropika (sepanjang garis balik) yang berbatasan dengan padang rumput.
Ciri-ciri bioma gurun adalah gersang dan curah hujan rendah (25 cm/tahun). Suhu slang hari tinggi (bisa mendapai 45°C) sehingga penguapan juga tinggi, sedangkan malam hari suhu sangat rendah (bisa mencapai 0°C). Perbedaan suhu antara siang dan malam sangat besar. Tumbuhan semusim yang terdapat di gurun berukuran kecil. Selain itu, di gurun dijumpai pula tumbuhan menahun berdaun seperti duri contohnya kaktus, atau tak berdaun dan memiliki akar panjang serta mempunyai jaringan untuk menyimpan air. Hewan yang hidup di gurun antara lain rodentia, ular, kadal, katak, dan kalajengking.
2. Bioma padang rumput
Bioma ini terdapat di daerah yang terbentang dari daerah tropik ke subtropik. Ciri-cirinya adalah curah hujan kurang lebih 25-30 cm per tahun dan hujan turun tidak teratur. Porositas (peresapan air) tinggi dan drainase (aliran air) cepat. Tumbuhan yang ada terdiri atas tumbuhan terna (herbs) dan rumput yang keduanya tergantung pada kelembapan. Hewannya antara lain: bison, zebra, singa, anjing liar, serigala, gajah, jerapah, kangguru, serangga, tikus dan ular
3. Bioma Hutan Basah
Bioma Hutan Basah terdapat di daerah tropika dan subtropik.
Ciri-cirinya adalah, curah hujan 200-225 cm per tahun. Species pepohonan relatif banyak, jenisnya berbeda antara satu dengan yang lainnya tergantung letak geografisnya. Tinggi pohon utama antara 20-40 m, cabang-cabang pohon tinngi dan berdaun lebat hingga membentuk tudung (kanopi). Dalam hutan basah terjadi perubahan iklim mikro (iklim yang langsung terdapat di sekitar organisme). Daerah tudung cukup mendapat sinar matahari. Variasi suhu dan kelembapan tinggi/besar; suhu sepanjang hari sekitar 25°C. Dalam hutan basah tropika sering terdapat tumbuhan khas, yaitu liana (rotan), kaktus, dan anggrek sebagai epifit. Hewannya antara lain, kera, burung, badak, babi hutan, harimau, dan burung hantu.
4. Bioma hutan gugur
Bioma hutan gugur terdapat di daerah beriklim sedang,
Ciri-cirinya adalah curah hujan merata sepanjang tahun. Terdapat di daerah yang mengalami empat musim (dingin, semi, panas, dan gugur). Jenis pohon sedikit (10 s/d 20) dan tidak terlalu rapat. Hewannya antara lain rusa, beruang, rubah, bajing, burung pelatuk, dan rakoon (sebangsa luwak).
5. Bioma taiga
Bioma taiga terdapat di belahan bumi sebelah utara dan di pegunungan daerah tropik. Ciri-cirinya adalah suhu di musim dingin rendah. Biasanya taiga merupakan hutan yang tersusun atas satu spesies seperti konifer, pinus, dap sejenisnya. Semak dan tumbuhan basah sedikit sekali. Hewannya antara lain moose, beruang hitam, ajag, dan burung-burung yang bermigrasi ke selatan pada musim gugur.
6. Bioma tundra
Bioma tundra terdapat di belahan bumi sebelah utara di dalam lingkaran kutub utara dan terdapat di puncak-puncak gunung tinggi. Pertumbuhan tanaman di daerah ini hanya 60 hari. Contoh tumbuhan yang dominan adalah Sphagnum, liken, tumbuhan biji semusim, tumbuhan kayu yang pendek, dan rumput. Pada umumnya, tumbuhannya mampu beradaptasi dengan keadaan yang dingin.
Hewan yang hidup di daerah ini ada yang menetap dan ada yang datang pada musim panas, semuanya berdarah panas. Hewan yang menetap memiliki rambut atau bulu yang tebal, contohnya muscox, rusa kutub, beruang kutub, dan insekta terutama nyamuk dan lalat hitam.
b. Ekosistem Air Tawar
Ciri-ciri ekosistem air tawar antara lain variasi suhu tidak menyolok, penetrasi cahaya kurang, dan terpengaruh oleh iklim dan cuaca. Macam tumbuhan yang terbanyak adalah jenis ganggang, sedangkan lainnya tumbuhan biji. Hampir semua filum hewan terdapat dalam air tawar. Organisme yang hidup di air tawar pada umumnya telah beradaptasi.
Adaptasi organisme air tawar adalah sebagai berikut.
Adaptasi tumbuhan
Tumbuhan yang hidup di air tawar biasanya bersel satu dan dinding selnya kuat seperti beberapa alga biru dan alga hijau. Air masuk ke dalam sel hingga maksimum dan akan berhenti sendiri. Tumbuhan tingkat tinggi, seperti teratai (Nymphaea gigantea), mempunyai akar jangkar (akar sulur). Hewan dan tumbuhan rendah yang hidup di habitat air, tekanan osmosisnya sama dengan tekanan osmosis lingkungan atau isotonis.
Adaptasi hewan
Ekosistem air tawar dihuni oleh nekton. Nekton merupakan hewan yang bergerak aktif dengan menggunakan otot yang kuat. Hewan tingkat tinggi yang hidup di ekosistem air tawar, misalnya ikan, dalam mengatasi perbedaan tekanan osmosis melakukan osmoregulasi untuk memelihara keseimbangan air dalam tubuhnya melalui sistem ekskresi, insang, dan pencernaan.
Habitat air tawar merupakan perantara habitat laut dan habitat darat. Penggolongan organisme dalam air dapat berdasarkan aliran energi dan kebiasaan hidup.
PERLU DIKETAHUI
Memulihkan dan Memelihara fitness dg Chlorella, Nutrisi Paling Lengkap dan multi fungsi
Artikel Chlorella
Di bawah ini beberapa artikel yg membahas chlorella dalam kapasitas membantu pemulihan kesehatan, terutama pada kasus-kasus penyakit kronis dan penurunan daya tahan tubuh.
Studi Klinis Diet Chlorella Untuk Penderita Kanker otak.
Randall E. Merchant, Ph.D. Professor of Anatomy and Neurosurgery ,Virginia Commonwealth University, Medical College of Virginia, Richmond, VA 23298-0709, USA
Randall E. Merchant, Ph.D
Sejumlah studi laboratorium dan klinis telah melaporkan bahwa preparasi sari Chlorella pyrenoidosa dengan dinding sel yg dipecah dan Chlorella Jenis lain ketika diberikan baik melalui mulut atau disuntik dapat meningkatkan pertumbuhan dan penyembuhan. Lebih jauh, preparasi ini telah ditunjukkan untuk merangsang komponen sistem kekebalan dan melindungi konsumen dari infeksi/peradangan dan kanker. Presentasi ini akan dengan segera mengkaji ulang pengalaman klinis kita dengan dua suplemen dengan derivasi dari Chlorella Pyrenoidosa, Sun CHLORELLA dan Chlorella Wakasa Gold ( yang produksi oleh Sun Chlorella Corp, Kyoto Jepang)
Pasien yang menderita tumor otak primer kronis mempunyai daya ingat lemah baik oleh karena tumor sendiri maupun dalam kaitan dengan perawatan yg bertujuan membunuh tumor itu, seringkali fungsi kekebalan dalam batas kompromi mendorong kepekaan terhadap infeksi/peradangan di atas normal . Di dalam studi ini, Sun Chlorella A ( 20 g) dan Wakasa Gold ( 150 ml) ditambahkan kepada menu diet sehari-hari terhadap 21 pasien dan kesehatan umum mereka setelah dimonitor secara bulanan dengan pengujian phisik dan neurologist, ternyata sepanjang ini mereka bertahan untuk waktu dua tahun atau lebih.
Secara periodik, dilakukan pencatatan jumlah sel darah dengan diferensial secara lengkap, evaluasi cytometric untuk sel pembunuh alami dan subsets sel T, dan di (dalam) vitro lymphocyte menguji pengaktifan kadar logam, penelitian itu dibuat untuk menilai tingkat immunosuppression telah dilakukan pada contoh darah. Hasil kami, walaupun terbatas oleh sample dalam dimensi kecil yang kami dapat, dapat meyakinkan bahwa komponen selular dan fungsi sistem kekebalan bertahan pada tahap mendekati normal dan terpengaruh lebih sedikit ketika pasien sedang mengalami kemotherapi atau menjalani pengobatan immunosuppressive seperti steroids. Lebih jauh, kita telah mengamati bahwa pasien kami mempunyai infeksi/peradangan lebih sedikit yang berhubungan dg pernapasan dan bermacam-macam penyakit seperti influensa. Sebanyak tujuh pasien yang bertahan hidup dan belum menunjukkan kemunculan kembali gliomas dari mereka setelah dua tahun pelaksanaan studi.
Kita menyelenggarakan percobaan klinis terhadap subjek yang menderita suatu penyakit kronis seperti fibromyalgia sindrom, hipertensi, atau ulcerative colitis (radang usus besar) dengan mengkonsumsi Sun Chlorella A ( 10 g) dan Wakasa Gold ( 100 ml) setiap hari untuk dua atau tiga bulan. Sebagai validasi, studi klinis kecil ini telah dirancang dan dilaksanakan menurut metodologi konvensional yang telah dipakai industri farmasi untuk pengembangan dan pengujian obat. Fibromyalgia Sindrom ( FS) adalah suatu penyakit yang menyeluruh, kronis, dan jika tidak ditangani, sering melumpuhkan dan menimbulkan kekacauan system otot dengan penyebab yang tak dikenal berhubungan dengan ketidak teraturan tidur. Di (dalam) dua percobaan klinis kami yang melibatkan lebih dari enampuluh pasien FS, penurunan cukup berarti di (dalam) banyaknya intensitas dan objek luka pada penyakit ini telah diamati. Mayoritas subjek juga dicatat pembebasan gejala FS yang mencatat peningkatan di (dalam) kemampuan fungsional mereka, tingkat kesadaran, dan keteraturan tidur.
Suplementasi sehari-hari berkenaan dg menu diet Sun Chlorella A dan Wakasa Gold dalam dua bulan mendorong suatu pengurangan penderitaan dan/ atau tekanan darah stabil pada 15 dari 24 subjek dengan hipertensi ringan sampai menengah ( tekanan diastolic 90-115 mmHg). Kuisioner disusun dan diberikan kepada subjek untuk menetapkan benar atau tidaknya suplementasi dengan produk-produk Chlorella dapat meningkatkan kualitas hidup mereka, hasilnya menunjukkan bahwa setelah melewati keseluruhan studi, persepsi mereka secara keseluruhan tentang kesehatan meningkat dengan mantap. Lebih jauh, suplementasi Sun Chlorella A dan Wakasa Gold mendorong kearah penurunan efek serum cholesterol secara berarti.
Ulcerative colitis (Radang usus besar/ UC) adalah suatu format kronis dan umum dari penyakit jaringan usus, penyebab penyakit radang menandai sebagai radang yang menyertakan mucosa dan submucosa dubur yang memberi secara klinis sebagai diarrhea berdarah dan sakit perut. Sembilan pasien dengan kondisi ringan sampai sedang menderita sakit dalam bentuk UC aktif yang mengkonsumsi Sun Chlorella A dan Wakasa Gold sehari-hari untuk dua bulan, melaporkan peningkatan di (dalam) gejala kesembuhan mereka. Radang yang berkurang telah dirasakan dan mengarahkan pengujian sigmoidoscopic dari mucosa berkenaan dengan dubur mereka dan menyimpulkan bahwa Chlorella mungkin telah mempercepat penyembuhan luka dan meningkatkan fungsi kekebalan. Hasil dari studi kami mempertunjukkan potensi untuk konsumsi sehari-hari Sun CHLORELLA A dan Wakasa Gold untuk membebaskan gejala, meningkatkan kualitas hidup, dan membuat normal fungsi tubuh pasien yang menderita dari macam-macam penyakit kronis dan di bawah perawatan untuk kanker
Manfaat Pepaya untuk kesehatan, klik disini
World Convention of Traditional Medicine & Acupuncture
Singapore
March 18 & 19, 2000
THE DETOXIFICATION, IMMUNOSTIMULATION AND HEALING PROPERTIES OF CHLORELLA
Dr. Paul Tse A.H.C.M., C.E.T., C.T., R.Ac.
Summary
Chlorella adalah suatu ganggang hijau bersel tunggal yang telah hidup di air bersih untuk lebih 2.5 milyar Tahun yl. ditemukan pertama pada tahun 1800-an oleh seorang Ahli ilmu biologi Belanda, tumbuhan ini terdiri dari lebih dari 50% protein dan memiliki kandungan klorofil (butir hijau daun) dan asam nucleic ( RNA dan DNA yang paling tinggi di antara tumbuhan yang dikenal . Tidak beracun, yang merupakan suatu makanan ideal sebagaimana suatu obat kedokteran alami. Studi klinis dan riset medis menunjukkan bahwa:
1) Chlorella dapat mengeluarkan toksin seperti timah hitam, air raksa, cadmium, arsenik, pestisida, uranium, obat pembasmi serangga (insektisida), P.C.B. (Polychlorbiphenyl ) dan lain lain dari tubuh.
2) Chlorella merangsang sistem kekebalan :
Chlorella merangsang produksi interferons, macrophages dan T sel, dengan demikian berfungsi sebagai suatu stimulan terhadap kekebalan tubuh.
3) Chlorella mempunyai suatu kemampuan menyembuhkan dalam cakupan luas seperti:
menyembuhkan luka, mengatasi pancreatitis, penyakit gusi ( pendarahan gusi dan gigi lepas), P.M.S., radang sendi, atherosclerosis, tekanan darah tinggi, sembelit, sindrom kelelahan kronis, kanker, penyakit jantung dan banyak lagi penyakit langka dan umum.
Catatan ini meringkas riset dan studi major yang dilakukan pada chlorella, seperti halnya pengamatan kami secara klinis dalam 14 tahun. Tonification chlorella berpengaruh pada xue ( darah), jing ( inti sari), chi ( qi, energi penting), dan shen (spiritual) juga diterangkan menurut kedokteran tradisional Cina.
Catatan:
1. Versi Cina dari artikel ini ada di buku panduan konggres ini Bagian Cina.
2. Ada 800 lebih studi atas chlorella, telah memperoleh banyak perhatian di kalangan ilmiah dan masyarakat medis baru-baru ini dalam kaitan dengan efek stimulasi sistem imunnya.
The Researches, Studies & Observation
1) Kemampuan Detoxifikasi Chlorella
Ada banyak riset dan studi yang mempertunjukkan bahwa chlorella mempunyai kemampuan menetralisir racun/detoks pada badan . Yang berikut adalah sebagian dari laporan yang utama:
a) Suatu riset telah dilakukan di mana tikus yang telah dipisahkan ke dalam dua kelompok. Kelompok yang dipelajari telah diberi makan dengan chlorella yang telah dicampur dengan cadmium. Sementara kelompok lain diberi makan dengan cadmium tanpa chlorella.
Dasar dari eksperimen ini adalah untuk menentukan jika cadmium akan diserap oleh chlorella. Di (dalam) kelompok yang telah ditentukan, cadmium tanpa chlorella untuk 10 hari, keterlambatan pertumbuhan telah dicatat, sementara pertumbuhan normal juga telah dicatat di dalam kelompok studi. Kadar Cadmium di dalam darah telah ditentukan. Ini menunjukkan bahwa cadmium yang telah bercampur dengan chlorella tidaklah diserap ke dalam badan tikus.
b) Dr. Ichimure melaporkan bahwa ketika pasiennya yang menderita keracunan dari cadmium mengkonsumsi 8 gram chlorella per hari, selama 12 hari, cadmium di dalam kotoran pasien meningkat 3 kali lipat dari keadaan awal. Setelah 24 hari mengkomsumsi chlorella, cadmium di (dalam) air seni telah meningkat 7 kali lipat dari kondisi awal, dan rasa sakit pasien dari keracunan cadmium dengan jelas berkurang. 1
c) Dr. Uda dari Kitakyushu City Institut untuk Riset Polusi Lingkungan di Jepang memberi dosis sehari-hari 4 s/d 6 gram chlorella untuk satu tahun kepada 30 pasien yang menderita karena Ekspose PCB (Polychlorbiphenyl) hasilnya adalah: mengurangi kelelahan, pencernaan lebih baik, dan pergerakan usus normal. 1
d) Dr. Pore dari School of Medicine, West Virginia University, menyelenggarakan suatu studi mengenai detoksifikasi chlorella :
chlorella telah diberikan pada tikus yg diracuni dengan chlordecone ( suatu yang sangat berbahaya chlorinated obat pembasmi serangga hidrokarbon).
Ia menemukan bahwa chlorella bersenyawa dengan chlordecone yang dicernakan melewati bidang gastrointestinal dan telah tereliminasi dari tubuh tikus. 1
e) Kemampuan Chlorella dalam hal detoxifikasi telah ditunjukkan dalam studi lain: suatu kultur dari jamur brewer's telah diberi suatu dosis yang mematikan dari racun yang berisi PCB, air raksa, tembaga, dan cadmium. Ketika chlorella ekstrak ditambahkan pada campuran ini , jamur brewer's tinggal dalam keadaan hidup; kelompok lain tanpa ditambahkan chlorella seluruhnya musnah oleh racun. 2
f) Studi lain telah menunjukkan dinding sel chlorella menyerap dan mengikat uranium 5, timah hitam 6, dan racun arsenic , dan sesudah itu menghilang dari tubuh mereka.
g) Studi Laboratorium menunjukkan bahwa dinding sel, sporopollenin1 ( suatu carotene-like polymer), dan klorofil dari chlorella berperanan penting dalam kemampuan detoksifikasi dari chlorella. 1,2,7,13 Karakteristik ini menarik zat beracun dari lingkungan nya dan mebuangnya dari badan, ini adalah suatu penemuan yang penting. Toksin ini seperti logam berat, material radio-aktif, pestisida hidrokarbon dan obat pembasmi serangga mungkin ditemukan di air di sekitar kita, udara, dan rantai makanan. Hal ini pada gilirannya menciptakan penyakit, termasuk kanker, alergi, permasalahan kulit, kekacauan neurologis, dan lain lain. Chlorella, suatu unsur alami, mempunyai karakteristik untuk menangani permasalahan yg berhubungan dengan toksin ini.
2) Immunostimulation Property Chlorella
Ada banyak riset dan studi yang membuktikan bahwa chlorella mempunyai kemampuan untuk merangsang sistem kekebalan. Yang berikut adalah sebagian dari laporan yang utama:
a) Di Departemen Imunologi, Bioregulation Medical Institute, Kyushu University, Jepang,
Chlorella Growth Factor ( CGF, suatu ekstraksi chlorella yang berisi derivative asam nucleic, asam amino, peptides, protein, vitamins, gula, dll.) telah disuntik ke dalam tikus-tikus yang kemudian diberi suntikan sel kanker. Percobaan ini menunjukkan bahwa CGF merangsang polymorphonuclear leukocytes ( suatu jenis sel darah putih) untuk menyerang sel kanker, memperpanjang hidup tikus-tikus dibandingkan dengan kelompok tikus-tikus yang tidak pernah menerima CGF. 9
b) Suatu eksperimen menunjukkan bahwa mencernakan chlorella dapat merangsang macrophage, interferon, dan produksi T sel, menghasilkan anti-tumor, anti-bacteria dan anti-viral effects. 1.7.12.17
c) Peneliti pada Kanazawa Medical University ( Jepang) dan Taipei Medical University ( R.O.C.) yang melakukan eksperimen dan menemukan bahwa efek anti-tumor chlorella meningkatkan aktivitas macrophage pada objek dan aktivitas cytotoxic dari nonadherent lymphocytes. Ini adalah serupa bagi beberapa bakteri ( seperti Mycobacterium dan Corynebacterium) Yang meningkatkan respon system kekebalan pada objek'. Ini secara klinis digunakan untuk anti perawatan kanker. Chlorella tidak mempunyai sifat racun terhadap kultur sel limpa atau sel tumor di (dalam) vitro ( test tabung) dan ke tikus-tikus di (dalam) vivo ( di dalam badan). Studi ini telah dipresentasikan di Third International Congress of Developmental and Comparative Immunology, Reims, Perancis. 8
d) Para doktor Jepang menemukan bahwa jika chlorella diberikan kepada pasien kanker sebelum radiasi dan chemotherapi mereka, sel darah putih mereka tidak akan menurun tajam di saat kondisi sel darah putih sedang rendah, dan akan membuat normal lagi lebih cepat dibanding biasanya.7
e) Suatu eksperimen telah dilaksanakan pada 971 pelaut Angkatan laut Jepang yang sedang melakukan pelayaran dari Tokyo ke Selandia Baru selama lebih dari 95 hari. Kelompok Studi mengambil 2 gram chlorella per hari telah menunjukkan 26.5% lebih sedikit mengalami kedinginan, dibandingkan kepada kelompok yang tidak mengambil chlorella.10
Chlorella menurunkan tingkat kedinginan sebab merangsang badan menghasilkan lebih banyak interferons untuk melawan virus. 1,7
3) The Healing Properties of Chlorella
Chlorella berisi suatu rangkaian panjang vitamins ( mencakup Vitamin A, C, E, Beta Carotene, B1, B2, B6, B12, dll.), mineral ( mencakup zat kapur, fosfor, magnesium, besi, seng, yodium, dll.), dan bahan gizi ( seperti asam amino, protein, lemak, karbohidrat, dan lain lain). Chlorella juga berisi konsentrat klorofil yang paling tinggi dan asam nucleic ( RNA dan DNA) diantara tumbuhan hijau yang dikenal. Chlorella berisi bahan gizi yang mampu menyembuhkan seperti: vitamin A, C, E dan beta carotene yang merupakan anti oxidants yang dapat mencegah kanker dan penyakit jantung, dll., klorofil, dinding sel chlorella, dan CGF terbukti sebagai memiliki kemampuan tersebut di atas. Cakupan bahan gizi chlorella yang kaya membantu kita mencegah dan menangani suatu penyakit dengan spektrum yang luas yang disebabkan oleh defisiensi bahan gizi. Kasus ini adalah suatu masalah yang sangat umum dalam kaitan dengan pengolahan makanan dan penanganannya yang dapat melenyapkan bahan gizi di (dalam) makanan kita.
Telah hidup sejak lebih 2.5 milyar tahun, chlorella mempunyai kekuatan luar biasa dari chi ( qi, energi penting) karena daya tahannya dari kepunahan (survival). Di bawah kondisi-kondisi pertumbuhan subur dan cahaya matahari kuat, masing-masing sel chlorella membelah dalam empat sel baru di dalam satu hari. Masing-Masing sel baru mengandung unsur-unsur sedemikian sehingga dapat survive dengan sendirinya dan secara terus-menerus membagi dalam empat sel baru setiap hari. Karakteristik ini di (dalam) chlorella dan komponen-komponennya sedemikian rupa sehingga menyediakan kemampuan menyembuhkan dimana tidak dimiliki tumbuhan lain.
Ukuran chlorella adalah serupa dengan sel darah merah manusia. Struktur molekular butir hijau daun di (dalam) chlorella sangat serupa kepada hemoglobin di (dalam) sel darah merah. Perbedaan yang utama adalah bahwa hemoglobin terkonsentrasi dari suatu atom besi dibanding atom magnesium yang terkandung di molekul klorofil. Klorofil telah digunakan menangani anemia dengan sukses. Dr. Bernard Jensen melaporkan bahwa ia menggunakan cairan klorofil (butir hijau daun) untuk membantu peningkatan jumlah sel darah merah pasiennya mencapai 400,000 dalam tiga minggu. 7
Hukum " like cures like " atau " using the similar form to tonify the similar form " tentang Pengobatan Tradisional Cina ( TCM) berlaku bagi chlorella juga:
1. Dinding Sel chlorella melindungi dirinya sendiri dari lingkungannya. Hal ini merupakan perilakunya untuk membantu detoxify kita, melindungi kesehatan selular kita.
2. CGF mempunyai karakteristik "jing" ( inti sari reproduktif, unsur penting dari suatu organisma) dan chi ( qi, energi penting) di dalam TCM sebab Chlorella mempunyai qi yang luar biasa untuk mereproduksi dirinya sendiri secara terus-menerus. Potensi itu dapat memperkuat badan kita dan sistem kekebalan ( wei chi, chi yang bersifat melindungi) dan energi seksual ( untuk diterangkan kemudian).
3. Nilai gizi di dalam chlorella memungkinkannya untuk mendukung hidup mandiri, juga untuk membantu memelihara tubuh kita. Chlorella berisi semua bahan gizi yang diperlukan kita bagi suatu kelangsungan hidup sehat.
4. Ada persamaan antara ukuran chlorella dan sel darah merah kita, dan kesamaan fungsi dan struktur butir hijau daun dengan hemoglobin kita. Dua hal ini adalah sangat penting untuk kelangsungan hidup organisma yang dimiliki keduanya. Di (dalam) penggunaan secara klinis, chlorella tonifies/meningkatkan daya pada darah kita.
5. DNA dan RNA yang tinggi di dalam chlorella dapat membangun blok untuk DNA dan RNA kita ( semua makhluk hidup terdiri dari bahan kimia dasar yang sama yang membangun blok). Kita bisa menggunakan asam nucleic ini untuk peremajaan sel. Dr. Benjamin telah menggunakan makanan dengan DNA dan RNA kadar tinggi untuk membantu pasiennya mempertahankan penampilan dan energi agar tampil lebih muda. Ia juga menemukan permasalahan kesehatan seperti radang sendi, penyakit paru-paru, penyakit jantung, penglihatan memburuk, penurunan memori dan depresi yang pulih dengan masukan dari makanan ini. 13,14
Yang berikut adalah laporan utama tentang kemampuan Chlorella dalam penyembuhan dan keunggulan chlorella1-18: alergi, sakit asma, penyakit paru-paru, dingin, influensa, radang sendi, menyembuhkan luka , pancreatitis, penyakit gusi ( pendarahan gusi dan gigi lepas), P.M.S., kanker, detoxification, keracunan hati, ketergantungan alkohol, keracunan usus, sembelit, anti-viral, borok, permasalahan kulit, artherosclerosis, permasalahan cholesterol, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kencing manis, epstein-Barr sindrom virus ( yang ditandai oleh infeksi/peradangan yang berulang, alergi, dan kelelahan, serupa dg sindrom kelelahan kronis), permasalah berhubungan dg jamur candida , obesitas, encok, herpes simplex, depresi, AIDS, bisul berserat, seizure, hypoglycemia, bau badan, terbakar, ketidak seimbangan hormon, stress, eksim, jet lag, penyakit pegal pada pinggang, ketergantungan dari kecanduan obat, dan lain lain
Chlorella menetralkan badan yang bersifat asam menjadi bersifat basa. Menurut riset seorang dokter Jepang, mengkonsumsi daging dan beraneka makanan, stress dan polusi menyebabkan badan untuk menjadi bersifat asam, dengan begitu memungkinkan timbulnya penyakit. Ketika tubuh manusia lanjut usia, gagal untuk mempertahankan air, kalium, dan sodium secara efisien seperti sebelumnya, oleh karena itu menyebabkan badan juga menjadi bersifat asam. Konsumsi Chlorella dapat menetralkan badan menjadi sedikit bersifat alkali, sebab chlorella dikenal sebagai makanan yang paling bersifat alkali dan mempunyai kemampuan untuk menyeimbangkan pH badan. Dokter ini menasehatkan pasiennya untuk menggunakan chlorella sebagai makanan anti aging seperti halnya untuk penanganan banyak kasus penyakit.18
My Clinical Observation
Secara klinis, saya menggunakan chlorella sebagai suplemen gizi, sebagai tambahan terhadap Traditional.China.Medicine (TCM). Perawatan seperti akupunktur dan herbal. Saya temukan chlorella mempunyai efek mengagumkan pada beberapa pasien dan penyakit yg disebut di atas. Sebagai contoh, peningkatan level energi pasien, tekanan darah tinggi membuat normal, gula beranjak surut, kanker menghilang lenyap dan banyaknya pengurangan kasus kedinginan dan influensa, dan lain lain Bagaimanapun, beberapa pasien tidak akan nampak mengalami perbedaan sangat besar pada gejala mereka setelah konsumsi chlorella dalam kaitan dengan permasalahan unik individu mereka ( Sebagai contoh, kompleksitas dari penyakit mereka). Chlorella bukanlah suatu obat, oleh karena itu mungkin tidak menjernihkan gejala tertentu sebagaimana obat melakukannya. Tetapi dengan konsumsi chlorella secara terus-menerus, mereka akan memperoleh manfaat jangka panjang, tanpa efek samping obat.
Banyak suplemen di pasaran mungkin berisi bahan-kimia buatan (yaitu, kebanyakan vitamin C di dalam format suplemen adalah tiruan, yang tidak mempunyai bio-energy ( chi, Qi) seperti di vitamin C chlorella). Tumbuhan hijau lain seperti spirulina, rumput gandum atau jewawut hijau, tidak memiliki dinding sel setebal chlorella dan tidak memiliki CGF, oleh karena itu berbeda dibanding chlorella.
kita mungkin secara sadar atau tidak sadar mengkonsumsi makanan atau air yang berisi pestisida, obat pembasmi serangga, logam berat, material radio-aktif, bahan-kimia sintetis dalam kaitan dengan makanan aditip artificial ( seperti penyedap rasa, pewarna dan bahan pengawet). Kita juga kemungkinan menghirup udara yg tercemar polusi lingkungan yang menyebabkan penyakit. Hal yang wajar bagi kita untuk mengkonsumsil chlorella sebagai pencegahan penyakit, detoxify badan kita tiap hari, juga untuk meremajakan ( untuk memperbaiki dan membangun kembali RNA kita dan DNA), untuk meningkatkan sistem kekebalan kita, dan untuk menyembuhkan badan kita sebelum gejala penyakit muncul. Ini adalah salah satu metoda pencegahan terbaik sebagaimana kami selalu menekankan TCM, juga salah satu contoh " menjadikan makanan sebagai obat terbaik kita."
My Further Observation
Baru-Baru ini, beberapa pasien sudah mencapai kesadaran mereka dari "pikiran kabur". Yang lain melaporkan pikiran mereka jadi lebih rileks dan merasakan lebih baik. Hal ini berarti Chlorella juga membantu jiwa ( shen). Beberapa orang yang sudah mengkonsumsi chlorella dalam jangka panjang secara mendasar mengakui energi seksual mereka meningkat yang mana di sisi lain menandakan bagaimana jing ( inti sari reproduktif) dari chlorella meningkatkan jing manusia, menurut penjelasan TCM.
Artikel Chlorella
Di bawah ini beberapa artikel yg membahas chlorella dalam kapasitas membantu pemulihan kesehatan, terutama pada kasus-kasus penyakit kronis dan penurunan daya tahan tubuh.
Studi Klinis Diet Chlorella Untuk Penderita Kanker otak.
Randall E. Merchant, Ph.D. Professor of Anatomy and Neurosurgery ,Virginia Commonwealth University, Medical College of Virginia, Richmond, VA 23298-0709, USA
Randall E. Merchant, Ph.D
Sejumlah studi laboratorium dan klinis telah melaporkan bahwa preparasi sari Chlorella pyrenoidosa dengan dinding sel yg dipecah dan Chlorella Jenis lain ketika diberikan baik melalui mulut atau disuntik dapat meningkatkan pertumbuhan dan penyembuhan. Lebih jauh, preparasi ini telah ditunjukkan untuk merangsang komponen sistem kekebalan dan melindungi konsumen dari infeksi/peradangan dan kanker. Presentasi ini akan dengan segera mengkaji ulang pengalaman klinis kita dengan dua suplemen dengan derivasi dari Chlorella Pyrenoidosa, Sun CHLORELLA dan Chlorella Wakasa Gold ( yang produksi oleh Sun Chlorella Corp, Kyoto Jepang)
Pasien yang menderita tumor otak primer kronis mempunyai daya ingat lemah baik oleh karena tumor sendiri maupun dalam kaitan dengan perawatan yg bertujuan membunuh tumor itu, seringkali fungsi kekebalan dalam batas kompromi mendorong kepekaan terhadap infeksi/peradangan di atas normal . Di dalam studi ini, Sun Chlorella A ( 20 g) dan Wakasa Gold ( 150 ml) ditambahkan kepada menu diet sehari-hari terhadap 21 pasien dan kesehatan umum mereka setelah dimonitor secara bulanan dengan pengujian phisik dan neurologist, ternyata sepanjang ini mereka bertahan untuk waktu dua tahun atau lebih.
Secara periodik, dilakukan pencatatan jumlah sel darah dengan diferensial secara lengkap, evaluasi cytometric untuk sel pembunuh alami dan subsets sel T, dan di (dalam) vitro lymphocyte menguji pengaktifan kadar logam, penelitian itu dibuat untuk menilai tingkat immunosuppression telah dilakukan pada contoh darah. Hasil kami, walaupun terbatas oleh sample dalam dimensi kecil yang kami dapat, dapat meyakinkan bahwa komponen selular dan fungsi sistem kekebalan bertahan pada tahap mendekati normal dan terpengaruh lebih sedikit ketika pasien sedang mengalami kemotherapi atau menjalani pengobatan immunosuppressive seperti steroids. Lebih jauh, kita telah mengamati bahwa pasien kami mempunyai infeksi/peradangan lebih sedikit yang berhubungan dg pernapasan dan bermacam-macam penyakit seperti influensa. Sebanyak tujuh pasien yang bertahan hidup dan belum menunjukkan kemunculan kembali gliomas dari mereka setelah dua tahun pelaksanaan studi.
Kita menyelenggarakan percobaan klinis terhadap subjek yang menderita suatu penyakit kronis seperti fibromyalgia sindrom, hipertensi, atau ulcerative colitis (radang usus besar) dengan mengkonsumsi Sun Chlorella A ( 10 g) dan Wakasa Gold ( 100 ml) setiap hari untuk dua atau tiga bulan. Sebagai validasi, studi klinis kecil ini telah dirancang dan dilaksanakan menurut metodologi konvensional yang telah dipakai industri farmasi untuk pengembangan dan pengujian obat. Fibromyalgia Sindrom ( FS) adalah suatu penyakit yang menyeluruh, kronis, dan jika tidak ditangani, sering melumpuhkan dan menimbulkan kekacauan system otot dengan penyebab yang tak dikenal berhubungan dengan ketidak teraturan tidur. Di (dalam) dua percobaan klinis kami yang melibatkan lebih dari enampuluh pasien FS, penurunan cukup berarti di (dalam) banyaknya intensitas dan objek luka pada penyakit ini telah diamati. Mayoritas subjek juga dicatat pembebasan gejala FS yang mencatat peningkatan di (dalam) kemampuan fungsional mereka, tingkat kesadaran, dan keteraturan tidur.
Suplementasi sehari-hari berkenaan dg menu diet Sun Chlorella A dan Wakasa Gold dalam dua bulan mendorong suatu pengurangan penderitaan dan/ atau tekanan darah stabil pada 15 dari 24 subjek dengan hipertensi ringan sampai menengah ( tekanan diastolic 90-115 mmHg). Kuisioner disusun dan diberikan kepada subjek untuk menetapkan benar atau tidaknya suplementasi dengan produk-produk Chlorella dapat meningkatkan kualitas hidup mereka, hasilnya menunjukkan bahwa setelah melewati keseluruhan studi, persepsi mereka secara keseluruhan tentang kesehatan meningkat dengan mantap. Lebih jauh, suplementasi Sun Chlorella A dan Wakasa Gold mendorong kearah penurunan efek serum cholesterol secara berarti.
Ulcerative colitis (Radang usus besar/ UC) adalah suatu format kronis dan umum dari penyakit jaringan usus, penyebab penyakit radang menandai sebagai radang yang menyertakan mucosa dan submucosa dubur yang memberi secara klinis sebagai diarrhea berdarah dan sakit perut. Sembilan pasien dengan kondisi ringan sampai sedang menderita sakit dalam bentuk UC aktif yang mengkonsumsi Sun Chlorella A dan Wakasa Gold sehari-hari untuk dua bulan, melaporkan peningkatan di (dalam) gejala kesembuhan mereka. Radang yang berkurang telah dirasakan dan mengarahkan pengujian sigmoidoscopic dari mucosa berkenaan dengan dubur mereka dan menyimpulkan bahwa Chlorella mungkin telah mempercepat penyembuhan luka dan meningkatkan fungsi kekebalan. Hasil dari studi kami mempertunjukkan potensi untuk konsumsi sehari-hari Sun CHLORELLA A dan Wakasa Gold untuk membebaskan gejala, meningkatkan kualitas hidup, dan membuat normal fungsi tubuh pasien yang menderita dari macam-macam penyakit kronis dan di bawah perawatan untuk kanker
Manfaat Pepaya untuk kesehatan, klik disini
World Convention of Traditional Medicine & Acupuncture
Singapore
March 18 & 19, 2000
THE DETOXIFICATION, IMMUNOSTIMULATION AND HEALING PROPERTIES OF CHLORELLA
Dr. Paul Tse A.H.C.M., C.E.T., C.T., R.Ac.
Summary
Chlorella adalah suatu ganggang hijau bersel tunggal yang telah hidup di air bersih untuk lebih 2.5 milyar Tahun yl. ditemukan pertama pada tahun 1800-an oleh seorang Ahli ilmu biologi Belanda, tumbuhan ini terdiri dari lebih dari 50% protein dan memiliki kandungan klorofil (butir hijau daun) dan asam nucleic ( RNA dan DNA yang paling tinggi di antara tumbuhan yang dikenal . Tidak beracun, yang merupakan suatu makanan ideal sebagaimana suatu obat kedokteran alami. Studi klinis dan riset medis menunjukkan bahwa:
1) Chlorella dapat mengeluarkan toksin seperti timah hitam, air raksa, cadmium, arsenik, pestisida, uranium, obat pembasmi serangga (insektisida), P.C.B. (Polychlorbiphenyl ) dan lain lain dari tubuh.
2) Chlorella merangsang sistem kekebalan :
Chlorella merangsang produksi interferons, macrophages dan T sel, dengan demikian berfungsi sebagai suatu stimulan terhadap kekebalan tubuh.
3) Chlorella mempunyai suatu kemampuan menyembuhkan dalam cakupan luas seperti:
menyembuhkan luka, mengatasi pancreatitis, penyakit gusi ( pendarahan gusi dan gigi lepas), P.M.S., radang sendi, atherosclerosis, tekanan darah tinggi, sembelit, sindrom kelelahan kronis, kanker, penyakit jantung dan banyak lagi penyakit langka dan umum.
Catatan ini meringkas riset dan studi major yang dilakukan pada chlorella, seperti halnya pengamatan kami secara klinis dalam 14 tahun. Tonification chlorella berpengaruh pada xue ( darah), jing ( inti sari), chi ( qi, energi penting), dan shen (spiritual) juga diterangkan menurut kedokteran tradisional Cina.
Catatan:
1. Versi Cina dari artikel ini ada di buku panduan konggres ini Bagian Cina.
2. Ada 800 lebih studi atas chlorella, telah memperoleh banyak perhatian di kalangan ilmiah dan masyarakat medis baru-baru ini dalam kaitan dengan efek stimulasi sistem imunnya.
The Researches, Studies & Observation
1) Kemampuan Detoxifikasi Chlorella
Ada banyak riset dan studi yang mempertunjukkan bahwa chlorella mempunyai kemampuan menetralisir racun/detoks pada badan . Yang berikut adalah sebagian dari laporan yang utama:
a) Suatu riset telah dilakukan di mana tikus yang telah dipisahkan ke dalam dua kelompok. Kelompok yang dipelajari telah diberi makan dengan chlorella yang telah dicampur dengan cadmium. Sementara kelompok lain diberi makan dengan cadmium tanpa chlorella.
Dasar dari eksperimen ini adalah untuk menentukan jika cadmium akan diserap oleh chlorella. Di (dalam) kelompok yang telah ditentukan, cadmium tanpa chlorella untuk 10 hari, keterlambatan pertumbuhan telah dicatat, sementara pertumbuhan normal juga telah dicatat di dalam kelompok studi. Kadar Cadmium di dalam darah telah ditentukan. Ini menunjukkan bahwa cadmium yang telah bercampur dengan chlorella tidaklah diserap ke dalam badan tikus.
b) Dr. Ichimure melaporkan bahwa ketika pasiennya yang menderita keracunan dari cadmium mengkonsumsi 8 gram chlorella per hari, selama 12 hari, cadmium di dalam kotoran pasien meningkat 3 kali lipat dari keadaan awal. Setelah 24 hari mengkomsumsi chlorella, cadmium di (dalam) air seni telah meningkat 7 kali lipat dari kondisi awal, dan rasa sakit pasien dari keracunan cadmium dengan jelas berkurang. 1
c) Dr. Uda dari Kitakyushu City Institut untuk Riset Polusi Lingkungan di Jepang memberi dosis sehari-hari 4 s/d 6 gram chlorella untuk satu tahun kepada 30 pasien yang menderita karena Ekspose PCB (Polychlorbiphenyl) hasilnya adalah: mengurangi kelelahan, pencernaan lebih baik, dan pergerakan usus normal. 1
d) Dr. Pore dari School of Medicine, West Virginia University, menyelenggarakan suatu studi mengenai detoksifikasi chlorella :
chlorella telah diberikan pada tikus yg diracuni dengan chlordecone ( suatu yang sangat berbahaya chlorinated obat pembasmi serangga hidrokarbon).
Ia menemukan bahwa chlorella bersenyawa dengan chlordecone yang dicernakan melewati bidang gastrointestinal dan telah tereliminasi dari tubuh tikus. 1
e) Kemampuan Chlorella dalam hal detoxifikasi telah ditunjukkan dalam studi lain: suatu kultur dari jamur brewer's telah diberi suatu dosis yang mematikan dari racun yang berisi PCB, air raksa, tembaga, dan cadmium. Ketika chlorella ekstrak ditambahkan pada campuran ini , jamur brewer's tinggal dalam keadaan hidup; kelompok lain tanpa ditambahkan chlorella seluruhnya musnah oleh racun. 2
f) Studi lain telah menunjukkan dinding sel chlorella menyerap dan mengikat uranium 5, timah hitam 6, dan racun arsenic , dan sesudah itu menghilang dari tubuh mereka.
g) Studi Laboratorium menunjukkan bahwa dinding sel, sporopollenin1 ( suatu carotene-like polymer), dan klorofil dari chlorella berperanan penting dalam kemampuan detoksifikasi dari chlorella. 1,2,7,13 Karakteristik ini menarik zat beracun dari lingkungan nya dan mebuangnya dari badan, ini adalah suatu penemuan yang penting. Toksin ini seperti logam berat, material radio-aktif, pestisida hidrokarbon dan obat pembasmi serangga mungkin ditemukan di air di sekitar kita, udara, dan rantai makanan. Hal ini pada gilirannya menciptakan penyakit, termasuk kanker, alergi, permasalahan kulit, kekacauan neurologis, dan lain lain. Chlorella, suatu unsur alami, mempunyai karakteristik untuk menangani permasalahan yg berhubungan dengan toksin ini.
2) Immunostimulation Property Chlorella
Ada banyak riset dan studi yang membuktikan bahwa chlorella mempunyai kemampuan untuk merangsang sistem kekebalan. Yang berikut adalah sebagian dari laporan yang utama:
a) Di Departemen Imunologi, Bioregulation Medical Institute, Kyushu University, Jepang,
Chlorella Growth Factor ( CGF, suatu ekstraksi chlorella yang berisi derivative asam nucleic, asam amino, peptides, protein, vitamins, gula, dll.) telah disuntik ke dalam tikus-tikus yang kemudian diberi suntikan sel kanker. Percobaan ini menunjukkan bahwa CGF merangsang polymorphonuclear leukocytes ( suatu jenis sel darah putih) untuk menyerang sel kanker, memperpanjang hidup tikus-tikus dibandingkan dengan kelompok tikus-tikus yang tidak pernah menerima CGF. 9
b) Suatu eksperimen menunjukkan bahwa mencernakan chlorella dapat merangsang macrophage, interferon, dan produksi T sel, menghasilkan anti-tumor, anti-bacteria dan anti-viral effects. 1.7.12.17
c) Peneliti pada Kanazawa Medical University ( Jepang) dan Taipei Medical University ( R.O.C.) yang melakukan eksperimen dan menemukan bahwa efek anti-tumor chlorella meningkatkan aktivitas macrophage pada objek dan aktivitas cytotoxic dari nonadherent lymphocytes. Ini adalah serupa bagi beberapa bakteri ( seperti Mycobacterium dan Corynebacterium) Yang meningkatkan respon system kekebalan pada objek'. Ini secara klinis digunakan untuk anti perawatan kanker. Chlorella tidak mempunyai sifat racun terhadap kultur sel limpa atau sel tumor di (dalam) vitro ( test tabung) dan ke tikus-tikus di (dalam) vivo ( di dalam badan). Studi ini telah dipresentasikan di Third International Congress of Developmental and Comparative Immunology, Reims, Perancis. 8
d) Para doktor Jepang menemukan bahwa jika chlorella diberikan kepada pasien kanker sebelum radiasi dan chemotherapi mereka, sel darah putih mereka tidak akan menurun tajam di saat kondisi sel darah putih sedang rendah, dan akan membuat normal lagi lebih cepat dibanding biasanya.7
e) Suatu eksperimen telah dilaksanakan pada 971 pelaut Angkatan laut Jepang yang sedang melakukan pelayaran dari Tokyo ke Selandia Baru selama lebih dari 95 hari. Kelompok Studi mengambil 2 gram chlorella per hari telah menunjukkan 26.5% lebih sedikit mengalami kedinginan, dibandingkan kepada kelompok yang tidak mengambil chlorella.10
Chlorella menurunkan tingkat kedinginan sebab merangsang badan menghasilkan lebih banyak interferons untuk melawan virus. 1,7
3) The Healing Properties of Chlorella
Chlorella berisi suatu rangkaian panjang vitamins ( mencakup Vitamin A, C, E, Beta Carotene, B1, B2, B6, B12, dll.), mineral ( mencakup zat kapur, fosfor, magnesium, besi, seng, yodium, dll.), dan bahan gizi ( seperti asam amino, protein, lemak, karbohidrat, dan lain lain). Chlorella juga berisi konsentrat klorofil yang paling tinggi dan asam nucleic ( RNA dan DNA) diantara tumbuhan hijau yang dikenal. Chlorella berisi bahan gizi yang mampu menyembuhkan seperti: vitamin A, C, E dan beta carotene yang merupakan anti oxidants yang dapat mencegah kanker dan penyakit jantung, dll., klorofil, dinding sel chlorella, dan CGF terbukti sebagai memiliki kemampuan tersebut di atas. Cakupan bahan gizi chlorella yang kaya membantu kita mencegah dan menangani suatu penyakit dengan spektrum yang luas yang disebabkan oleh defisiensi bahan gizi. Kasus ini adalah suatu masalah yang sangat umum dalam kaitan dengan pengolahan makanan dan penanganannya yang dapat melenyapkan bahan gizi di (dalam) makanan kita.
Telah hidup sejak lebih 2.5 milyar tahun, chlorella mempunyai kekuatan luar biasa dari chi ( qi, energi penting) karena daya tahannya dari kepunahan (survival). Di bawah kondisi-kondisi pertumbuhan subur dan cahaya matahari kuat, masing-masing sel chlorella membelah dalam empat sel baru di dalam satu hari. Masing-Masing sel baru mengandung unsur-unsur sedemikian sehingga dapat survive dengan sendirinya dan secara terus-menerus membagi dalam empat sel baru setiap hari. Karakteristik ini di (dalam) chlorella dan komponen-komponennya sedemikian rupa sehingga menyediakan kemampuan menyembuhkan dimana tidak dimiliki tumbuhan lain.
Ukuran chlorella adalah serupa dengan sel darah merah manusia. Struktur molekular butir hijau daun di (dalam) chlorella sangat serupa kepada hemoglobin di (dalam) sel darah merah. Perbedaan yang utama adalah bahwa hemoglobin terkonsentrasi dari suatu atom besi dibanding atom magnesium yang terkandung di molekul klorofil. Klorofil telah digunakan menangani anemia dengan sukses. Dr. Bernard Jensen melaporkan bahwa ia menggunakan cairan klorofil (butir hijau daun) untuk membantu peningkatan jumlah sel darah merah pasiennya mencapai 400,000 dalam tiga minggu. 7
Hukum " like cures like " atau " using the similar form to tonify the similar form " tentang Pengobatan Tradisional Cina ( TCM) berlaku bagi chlorella juga:
1. Dinding Sel chlorella melindungi dirinya sendiri dari lingkungannya. Hal ini merupakan perilakunya untuk membantu detoxify kita, melindungi kesehatan selular kita.
2. CGF mempunyai karakteristik "jing" ( inti sari reproduktif, unsur penting dari suatu organisma) dan chi ( qi, energi penting) di dalam TCM sebab Chlorella mempunyai qi yang luar biasa untuk mereproduksi dirinya sendiri secara terus-menerus. Potensi itu dapat memperkuat badan kita dan sistem kekebalan ( wei chi, chi yang bersifat melindungi) dan energi seksual ( untuk diterangkan kemudian).
3. Nilai gizi di dalam chlorella memungkinkannya untuk mendukung hidup mandiri, juga untuk membantu memelihara tubuh kita. Chlorella berisi semua bahan gizi yang diperlukan kita bagi suatu kelangsungan hidup sehat.
4. Ada persamaan antara ukuran chlorella dan sel darah merah kita, dan kesamaan fungsi dan struktur butir hijau daun dengan hemoglobin kita. Dua hal ini adalah sangat penting untuk kelangsungan hidup organisma yang dimiliki keduanya. Di (dalam) penggunaan secara klinis, chlorella tonifies/meningkatkan daya pada darah kita.
5. DNA dan RNA yang tinggi di dalam chlorella dapat membangun blok untuk DNA dan RNA kita ( semua makhluk hidup terdiri dari bahan kimia dasar yang sama yang membangun blok). Kita bisa menggunakan asam nucleic ini untuk peremajaan sel. Dr. Benjamin telah menggunakan makanan dengan DNA dan RNA kadar tinggi untuk membantu pasiennya mempertahankan penampilan dan energi agar tampil lebih muda. Ia juga menemukan permasalahan kesehatan seperti radang sendi, penyakit paru-paru, penyakit jantung, penglihatan memburuk, penurunan memori dan depresi yang pulih dengan masukan dari makanan ini. 13,14
Yang berikut adalah laporan utama tentang kemampuan Chlorella dalam penyembuhan dan keunggulan chlorella1-18: alergi, sakit asma, penyakit paru-paru, dingin, influensa, radang sendi, menyembuhkan luka , pancreatitis, penyakit gusi ( pendarahan gusi dan gigi lepas), P.M.S., kanker, detoxification, keracunan hati, ketergantungan alkohol, keracunan usus, sembelit, anti-viral, borok, permasalahan kulit, artherosclerosis, permasalahan cholesterol, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, kencing manis, epstein-Barr sindrom virus ( yang ditandai oleh infeksi/peradangan yang berulang, alergi, dan kelelahan, serupa dg sindrom kelelahan kronis), permasalah berhubungan dg jamur candida , obesitas, encok, herpes simplex, depresi, AIDS, bisul berserat, seizure, hypoglycemia, bau badan, terbakar, ketidak seimbangan hormon, stress, eksim, jet lag, penyakit pegal pada pinggang, ketergantungan dari kecanduan obat, dan lain lain
Chlorella menetralkan badan yang bersifat asam menjadi bersifat basa. Menurut riset seorang dokter Jepang, mengkonsumsi daging dan beraneka makanan, stress dan polusi menyebabkan badan untuk menjadi bersifat asam, dengan begitu memungkinkan timbulnya penyakit. Ketika tubuh manusia lanjut usia, gagal untuk mempertahankan air, kalium, dan sodium secara efisien seperti sebelumnya, oleh karena itu menyebabkan badan juga menjadi bersifat asam. Konsumsi Chlorella dapat menetralkan badan menjadi sedikit bersifat alkali, sebab chlorella dikenal sebagai makanan yang paling bersifat alkali dan mempunyai kemampuan untuk menyeimbangkan pH badan. Dokter ini menasehatkan pasiennya untuk menggunakan chlorella sebagai makanan anti aging seperti halnya untuk penanganan banyak kasus penyakit.18
My Clinical Observation
Secara klinis, saya menggunakan chlorella sebagai suplemen gizi, sebagai tambahan terhadap Traditional.China.Medicine (TCM). Perawatan seperti akupunktur dan herbal. Saya temukan chlorella mempunyai efek mengagumkan pada beberapa pasien dan penyakit yg disebut di atas. Sebagai contoh, peningkatan level energi pasien, tekanan darah tinggi membuat normal, gula beranjak surut, kanker menghilang lenyap dan banyaknya pengurangan kasus kedinginan dan influensa, dan lain lain Bagaimanapun, beberapa pasien tidak akan nampak mengalami perbedaan sangat besar pada gejala mereka setelah konsumsi chlorella dalam kaitan dengan permasalahan unik individu mereka ( Sebagai contoh, kompleksitas dari penyakit mereka). Chlorella bukanlah suatu obat, oleh karena itu mungkin tidak menjernihkan gejala tertentu sebagaimana obat melakukannya. Tetapi dengan konsumsi chlorella secara terus-menerus, mereka akan memperoleh manfaat jangka panjang, tanpa efek samping obat.
Banyak suplemen di pasaran mungkin berisi bahan-kimia buatan (yaitu, kebanyakan vitamin C di dalam format suplemen adalah tiruan, yang tidak mempunyai bio-energy ( chi, Qi) seperti di vitamin C chlorella). Tumbuhan hijau lain seperti spirulina, rumput gandum atau jewawut hijau, tidak memiliki dinding sel setebal chlorella dan tidak memiliki CGF, oleh karena itu berbeda dibanding chlorella.
kita mungkin secara sadar atau tidak sadar mengkonsumsi makanan atau air yang berisi pestisida, obat pembasmi serangga, logam berat, material radio-aktif, bahan-kimia sintetis dalam kaitan dengan makanan aditip artificial ( seperti penyedap rasa, pewarna dan bahan pengawet). Kita juga kemungkinan menghirup udara yg tercemar polusi lingkungan yang menyebabkan penyakit. Hal yang wajar bagi kita untuk mengkonsumsil chlorella sebagai pencegahan penyakit, detoxify badan kita tiap hari, juga untuk meremajakan ( untuk memperbaiki dan membangun kembali RNA kita dan DNA), untuk meningkatkan sistem kekebalan kita, dan untuk menyembuhkan badan kita sebelum gejala penyakit muncul. Ini adalah salah satu metoda pencegahan terbaik sebagaimana kami selalu menekankan TCM, juga salah satu contoh " menjadikan makanan sebagai obat terbaik kita."
My Further Observation
Baru-Baru ini, beberapa pasien sudah mencapai kesadaran mereka dari "pikiran kabur". Yang lain melaporkan pikiran mereka jadi lebih rileks dan merasakan lebih baik. Hal ini berarti Chlorella juga membantu jiwa ( shen). Beberapa orang yang sudah mengkonsumsi chlorella dalam jangka panjang secara mendasar mengakui energi seksual mereka meningkat yang mana di sisi lain menandakan bagaimana jing ( inti sari reproduktif) dari chlorella meningkatkan jing manusia, menurut penjelasan TCM.
TEKNIK LABOLATORIUM
1. CAWAN PETRI
Cawan Petri atau telepa Petri adalah sebuah wadah yang bentuknya bundar dan terbuat dari plastik atau kaca yang digunakan untuk membiakkan sel. Cawan Petri selalu berpasangan, yang ukurannya agak kecil sebagai wadah dan yang lebih besar merupakan tutupnya. Alat ini digunakan sebagai wadah untuk penyelidikan tropi dan juga untuk mengkultur bakteri, khamir, spora, atau biji-bijian. Cawan Petri plastik dapat dimusnahkan setelah sekali pakai untuk kultur bakteri (Anonim, 2009). Cawan petri juga dapat digunakan untuk melihat perkecambahan benih atau untuk mengobservasi hewan kecil (York High School Elmhurst Illinois, 2000). Cawan petri dapat digunakan untuk mengkultur bakteri ataupun sebagai display lingkungan tertutup bagi insekta dan pembenihan tanaman. Cawan petri ini terbuat dari polistiren bening dan steri
Cawan Petri atau telepa Petri adalah sebuah wadah yang bentuknya bundar dan terbuat dari plastik atau kaca yang digunakan untuk membiakkan sel. Cawan Petri selalu berpasangan, yang ukurannya agak kecil sebagai wadah dan yang lebih besar merupakan tutupnya. Cawan Petri dinamai menurut nama penemunya pada tahun 1877, yaitu Julius Richard Petri (1852–1921), ahli bakteri berkebangsaan Jerman.
Kegunaan
Alat ini digunakan sebagai wadah untuk penyelidikan tropi dan juga untuk mengkultur bakteri, khamir, spora, atau biji-bijian. Cawan Petri plastik dapat dimusnahkan setelah sekali pakai untuk kultur bakteri. Selain itu juga sering sekali untuk menjaga sterilitas saat kultur jaringan.
2. OBJEK GLASS
3. COVER GLASS
4. TABUNG REAKSI BESAR
5. TABUNG REAKSI KECIL
Tabung reaksi berfungsi sebagai tempat media pertumbuhan mikroba alam bentuk media tegak atau miring yang disumbat dengan kapas, dibulatkan lalu disterilkan dengan kapas berada tetap di atasnya dan diikat (Anonim, 2009). Tabung reaksi dapat diisi media padat maupun cair. Tutup tabung reaksi dapat berupa kapas, tutup metal, tutup plastik atau aluminium foil. Media padat yang dimasukkan ke tabung reaksi dapat diatur menjadi 2 bentuk menurut fungsinya, yaitu media agar tegak (deep tube agar) dan agar miring (slants agar). Untuk membuat agar miring, perlu diperhatikan tentang kemiringan media yaitu luas permukaan yang kontak dengan udara tidak terlalu sempit atau tidak terlalu lebar dan hindari jarak media yang terlalu dekat dengan mulut tabung karena memperbesar resiko kontaminasi.Tabung reaksi yang disterilkan di dalam autoklaf harus ditutup dengan kapas dan aluminium foil (Taiyeb, 2001).
6. VOLUMETRIK
Pipet Volumetrik
Ciri-ciri :
o Jarak antar skala rapat
o Meruncing di bagian ujung
o Menggunakan karet hisap dalam menggunakannya
Fungsi :
o Untuk mengambil dan memindahkan zat cair
7. LABU UKUR
Alat ini dipakai untuk membuat larutan standar dengan volume tertentu misalnya 10, 25, 50 mL. Jangan gunakan beaker glass untuk membuat larutan standar sebab labu ukur lebih presisi.
Labu Ukur adalah sebuah perangkat yang memiliki kapasitas antara 5 mL sampai 5 L dan biasanya instrumen ini digunakan untuk mengencerkan zat tertentu hingga batas leher labu ukur. Alat ini biasanya digunakan untuk mendapatkan larutan zat tertentu yang nantinya hanya digunakan dalam ukuran yang terbatas hanya sebagai sampel dengan menggunakan pipet. Dalam sistem pengenceran, untuk zat yang tidak berwarna, penambahan aquadest sampai menunjukkan garis meniskus berada di leher labu. Untuk zat yang berwarna, penambahan aquadets hingga dasar meniskus yang menyentuh leher labu ( meniskus berada di atas garis leher ).
Sebelum menggunakan instrumen ini, labu ukur harus dicuci terlebih dahulu. Lebih baik menggunakan sabun agar zat – zat yang tidak dibutuhkan dapat terlarut dan akhirnya terbuang. Dalam keadaan bagaimanapun, labu ukur yang kering sangatlah baik untuk digunakan.
Dalam rangka melakukan kerja rutin di laboratorium, tidaklah luar biasa untuk memiliki larutan encer atau mengurangi kepekatan mereka dengan menambahkan sejumlah pelarut. Banyak bahan kimia laboratorium dibeli dalam bentuk larutan air yang pekat karena inilah cara pembelian yang paling ekonomis. Tetapi biasanya bahan kimia ini terlalu pekat untuk langsung digunakan, dan karenanya harus diencerkan. Proses pengenceran melibatkan pencampuran suatu larutan pekat dengan pelarut tambahan untuk memberikan volume akhir yang lebih besar. Selama proses ini, banyak mol yang dalam larutan tetap, dan hanya volumenya yang bertambah. Fakta ini mebentuk dasar untuk mengerjakan soal yang mebahas pengenceran. Ada beberapa langkah dalam mempersiapkan suatu larutan dengan molaritas tertentu:
• Zat terlarut ditimbang teliti ke dalam sebuah labu volumetri ( labu ukur ).
• Ditambahkan air suling.
• Campuran digoyang melingkar ( diolek ) untuk melarutkan zat terlarut
• Setelah ditambahkan air lagi, digunakan pipet tetes untuk menambahkan air dengan hati – hati sampai volume permukaan cairan tepat berimpit dengan tanda lingkaran pada leher labu.
• Labu disumbat dan kemudian dikocok agar larutan seragam
c. Kalibrasi Labu ukur 100 ml
• 1) Mengambil aquadest dengan menggunakan pipet volume 25 ml
• 2) Memindahkan aquades dari pipet volume tersebut ke dalam labu ukur 100 ml sesuai prosedur yang baik dan benar
• 3) Melakukan kegiatan 1 dan 2 sebanyak 4 kali
• 4) Membersihkan labu ukur bagian atas dengan garis tera dengan menggunakan kertas saring.
• 5) Mengamati miniskus bawah berimpitan dengan garis tera atau tidak. Jika melebihi atau kurang dari garis tera maka memberi garis tanda tera baru dengan menggunakan sepidol.
Cawan Petri atau telepa Petri adalah sebuah wadah yang bentuknya bundar dan terbuat dari plastik atau kaca yang digunakan untuk membiakkan sel. Cawan Petri selalu berpasangan, yang ukurannya agak kecil sebagai wadah dan yang lebih besar merupakan tutupnya. Alat ini digunakan sebagai wadah untuk penyelidikan tropi dan juga untuk mengkultur bakteri, khamir, spora, atau biji-bijian. Cawan Petri plastik dapat dimusnahkan setelah sekali pakai untuk kultur bakteri (Anonim, 2009). Cawan petri juga dapat digunakan untuk melihat perkecambahan benih atau untuk mengobservasi hewan kecil (York High School Elmhurst Illinois, 2000). Cawan petri dapat digunakan untuk mengkultur bakteri ataupun sebagai display lingkungan tertutup bagi insekta dan pembenihan tanaman. Cawan petri ini terbuat dari polistiren bening dan steri
Cawan Petri atau telepa Petri adalah sebuah wadah yang bentuknya bundar dan terbuat dari plastik atau kaca yang digunakan untuk membiakkan sel. Cawan Petri selalu berpasangan, yang ukurannya agak kecil sebagai wadah dan yang lebih besar merupakan tutupnya. Cawan Petri dinamai menurut nama penemunya pada tahun 1877, yaitu Julius Richard Petri (1852–1921), ahli bakteri berkebangsaan Jerman.
Kegunaan
Alat ini digunakan sebagai wadah untuk penyelidikan tropi dan juga untuk mengkultur bakteri, khamir, spora, atau biji-bijian. Cawan Petri plastik dapat dimusnahkan setelah sekali pakai untuk kultur bakteri. Selain itu juga sering sekali untuk menjaga sterilitas saat kultur jaringan.
2. OBJEK GLASS
3. COVER GLASS
4. TABUNG REAKSI BESAR
5. TABUNG REAKSI KECIL
Tabung reaksi berfungsi sebagai tempat media pertumbuhan mikroba alam bentuk media tegak atau miring yang disumbat dengan kapas, dibulatkan lalu disterilkan dengan kapas berada tetap di atasnya dan diikat (Anonim, 2009). Tabung reaksi dapat diisi media padat maupun cair. Tutup tabung reaksi dapat berupa kapas, tutup metal, tutup plastik atau aluminium foil. Media padat yang dimasukkan ke tabung reaksi dapat diatur menjadi 2 bentuk menurut fungsinya, yaitu media agar tegak (deep tube agar) dan agar miring (slants agar). Untuk membuat agar miring, perlu diperhatikan tentang kemiringan media yaitu luas permukaan yang kontak dengan udara tidak terlalu sempit atau tidak terlalu lebar dan hindari jarak media yang terlalu dekat dengan mulut tabung karena memperbesar resiko kontaminasi.Tabung reaksi yang disterilkan di dalam autoklaf harus ditutup dengan kapas dan aluminium foil (Taiyeb, 2001).
6. VOLUMETRIK
Pipet Volumetrik
Ciri-ciri :
o Jarak antar skala rapat
o Meruncing di bagian ujung
o Menggunakan karet hisap dalam menggunakannya
Fungsi :
o Untuk mengambil dan memindahkan zat cair
7. LABU UKUR
Alat ini dipakai untuk membuat larutan standar dengan volume tertentu misalnya 10, 25, 50 mL. Jangan gunakan beaker glass untuk membuat larutan standar sebab labu ukur lebih presisi.
Labu Ukur adalah sebuah perangkat yang memiliki kapasitas antara 5 mL sampai 5 L dan biasanya instrumen ini digunakan untuk mengencerkan zat tertentu hingga batas leher labu ukur. Alat ini biasanya digunakan untuk mendapatkan larutan zat tertentu yang nantinya hanya digunakan dalam ukuran yang terbatas hanya sebagai sampel dengan menggunakan pipet. Dalam sistem pengenceran, untuk zat yang tidak berwarna, penambahan aquadest sampai menunjukkan garis meniskus berada di leher labu. Untuk zat yang berwarna, penambahan aquadets hingga dasar meniskus yang menyentuh leher labu ( meniskus berada di atas garis leher ).
Sebelum menggunakan instrumen ini, labu ukur harus dicuci terlebih dahulu. Lebih baik menggunakan sabun agar zat – zat yang tidak dibutuhkan dapat terlarut dan akhirnya terbuang. Dalam keadaan bagaimanapun, labu ukur yang kering sangatlah baik untuk digunakan.
Dalam rangka melakukan kerja rutin di laboratorium, tidaklah luar biasa untuk memiliki larutan encer atau mengurangi kepekatan mereka dengan menambahkan sejumlah pelarut. Banyak bahan kimia laboratorium dibeli dalam bentuk larutan air yang pekat karena inilah cara pembelian yang paling ekonomis. Tetapi biasanya bahan kimia ini terlalu pekat untuk langsung digunakan, dan karenanya harus diencerkan. Proses pengenceran melibatkan pencampuran suatu larutan pekat dengan pelarut tambahan untuk memberikan volume akhir yang lebih besar. Selama proses ini, banyak mol yang dalam larutan tetap, dan hanya volumenya yang bertambah. Fakta ini mebentuk dasar untuk mengerjakan soal yang mebahas pengenceran. Ada beberapa langkah dalam mempersiapkan suatu larutan dengan molaritas tertentu:
• Zat terlarut ditimbang teliti ke dalam sebuah labu volumetri ( labu ukur ).
• Ditambahkan air suling.
• Campuran digoyang melingkar ( diolek ) untuk melarutkan zat terlarut
• Setelah ditambahkan air lagi, digunakan pipet tetes untuk menambahkan air dengan hati – hati sampai volume permukaan cairan tepat berimpit dengan tanda lingkaran pada leher labu.
• Labu disumbat dan kemudian dikocok agar larutan seragam
c. Kalibrasi Labu ukur 100 ml
• 1) Mengambil aquadest dengan menggunakan pipet volume 25 ml
• 2) Memindahkan aquades dari pipet volume tersebut ke dalam labu ukur 100 ml sesuai prosedur yang baik dan benar
• 3) Melakukan kegiatan 1 dan 2 sebanyak 4 kali
• 4) Membersihkan labu ukur bagian atas dengan garis tera dengan menggunakan kertas saring.
• 5) Mengamati miniskus bawah berimpitan dengan garis tera atau tidak. Jika melebihi atau kurang dari garis tera maka memberi garis tanda tera baru dengan menggunakan sepidol.
Langganan:
Postingan (Atom)
